Tampilkan postingan dengan label Piala Dunia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Piala Dunia. Tampilkan semua postingan
Minggu, 26 Desember 2010
Jadwal Arsenal di Musim 2010/2011
Hari ini, FA
mengeluarkan daftar
pertandingan untuk Liga
Premier Inggris musim
2010/2011. Klub Arsenal
diawal pertandingan
sudah harus
berhadapan dengan
mantan penghuni BIG
FOUR, Liverpool yang
musim lalu terseok -
seok di Liga. Dan pada
partai Boxing Day,
Arsenal juga akan
berhadapan dengan
juara musim lalu
Chelsea.
Dari hasil analisa id-
arsenal.com, Bulan
November dan
Desember akan menjadi
bulan yang berat.
November didalam
daftar Arsenal akan
bermain lima kali.
Apabila ditambah
dengan partai Liga
Champion dan juga
Carling Cup, total
pertandingan akan
menjadi 9 kali main
dalam satu bulan.
Demikian juga untuk
bulan Desember,
dengan lima
pertandingan Liga
Premier dan salah
satunya akan
menghadapi lawan
berat dari Manchester
United di Old Trafford.
Berikut adalah jadwal
lengkap pertandingan
musim 2010/2011
untuk Arsenal yang
dikutip dari
premierleague.com:
Keterangan: (A) =
Away / Tandang; (H) =
Home / Kandang.
August
14 Liverpool (A)
21 Blackpool (H)
28 Blackburn (A)
September
11 Bolton (H)
18 Sunderland (A)
25 West Brom (H)
October
2 Chelsea (A)
16 Birmingham (H)
23 Man City (A)
30 West Ham (H)
November
6 Newcastle (H)
9 Wolverhampton (A)
13 Everton (A)
20 Tottenham (H)
27 Aston Villa (A)
December
4 Fulham (H)
11 Man Utd (A)
18 Stoke (H)
26 Chelsea (H)
28 Wigan (A)
January
1 Birmingham (A)
4 Man City (H)
15 West Ham (A)
22 Wigan (H)
February
1 Everton (H)
5 Newcastle (A)
12 Wolverhampton (H)
26 Tottenham (A)
March
5 Sunderland (H)
19 West Brom (A)
April
2 Blackburn (H)
9 Blackpool (A)
16 Liverpool (H)
23 Bolton (A)
30 Man Utd (H)
May
7 Stoke (A)
14 Aston Villa (H)
22 Fulham (A)
Senin, 19 Juli 2010
Daftar Top Skorer Piala Dunia
detikcom - Jakarta,
Lima pemain menjadi
pemain tersubur di
Piala Dunia 2010, tapi
Thomas Mueller yang
mendapatkan "Sepatu
Emas". Berikut ini data-
data seputar para top
skorer Piala Dunia:
Piala Dunia Pemain Asal Jumlah
1930 Guillermo Stabille Argentina 8 gol
1934 Oldrich Nejedly Cekoslovakia 5 gol
1938 Leonidas Brasil 7 gol
1950 Ademir Brasil 9 gol
1954 Sandor Kocsis Hongaria 11 gol
1958 Just Fontaine Prancis 13 gol
1962 Garrincha Brasil 4 gol
Vava Brasil 4 gol
Leonel Sanchez Cile 4 gol
Florian Albert Hongaria 4 gol
Valentin Ivanov Rusia 4 gol
Drazan Jerkovic Kroasia 4 gol
1966 Eusebio Portugal 9 gol
1970 Gerd Muller Jerman 10 gol
1974 Grzegorz Lato Polandia 7 gol
1978 Mario Kempes Argentina 6 gol
1982 Paolo Rossi Italia 6 gol
1986 Gary Lineker Inggris 6 gol
1990 Salvatore Schillaci Italia 6 gol
1994 Hristo Stoichkov Bulgaria 6 gol
Oleg Salenko Rusia 6 gol
1998 Davor Suker Kroasia 6 gol
2002 Ronaldo Brasil 8 gol
2006 Miroslav Klose Jerman 5 gol
2010 Thomas Mueller Jerman 5 gol
David Villa Spanyol 5 gol
Wesley Sneijder Belanda 5 gol
Diego Forlan Uruguay 5 gol
Catatan:
- FIFS awalnya
mencatat Oldrich
Nejedly
(Cekoslowakia)
dengan empat gol,
yang menjadikannya
top skorer bersama
Angelo Schiavio (Italia)
dan Edmund Conen
(Jerman). Namun pada
November 2006 FIFA
mengubahnya menjadi
lima gol, dan itu
membuat Nejedly
sebagai top skorer
turnamen 1934.
- FIFA sebelumnya
mencatat Leondias da
Silva dengan delapan
gol, sebagai top skorer
Piala Dunia 1938. Pada
November 2006 jumlah
itu direvisi menjadi
tujuh, karena ia
diputuskan hanya
mencetak satu gol
saat Brasil bertanding
melawan
Cekoslowakia di babak
perempatfinal -- bukan
dua seperti di catatan
sebelumnya. Tapi ia
tetap menjadi top
skorer.
- Ademir Menezes
"ditambah" koleksi
golnya menjadi
sembilan di Piala Dunia
1950. Semula ia
tercatat hanya
mencetak tujuh gol.
Dua tambahan didapat
dari revisi catatan gol
Brasil vs Spanyol. Satu
gol bunuh diri bek
Spanyol Parra, dan
satu gol Jair,
belakangan dinyatakan
FIFA milik Ademir.
- Oleg Salenko adalah
satu-satunya pemain
yang menjadi top
skorer yang timnya
tersingkir di babak
awal, di Piala Dunia
1994. Uniknya lagi,
hanya enam gol itu
sumbangan gol
Salenko untuk
negaranya (Rusia), dari
delapan caps yang ia
miliki.
- Di pertandingan
semifinal Piala Dunia
2002 melawan Turki,
penyerang Brasil
Ronaldo memprotes
gol yang semula
dicatat FIFA sebagai
bunuh diri pemain
lawan. FIFA
mengabulkan protes
tersebut dan Ronaldo
berhak mengantongi
gol tersebut.
- Thomas Mueller,
Wesley Sneijder, David
Villa dan Diego Forlan
sama-sama mencetak
lima gol di Piala Dunia
2010. Mereka adalah
top skorer, tapi Mueller
yang berhak menerima
"Sepatu Emas"
karena memiliki jumlah
assist tertinggi
dibanding yang lain. Ia
membuat tiga assist,
lainnya cuma satu.
- Villa berhasil
menerima "Sepatu
Perak" karena durasi
bermainnya lebih
pendek daripada
Sneijder. Adapun
Sneijder memenangi
"Sepatu Perunggu
"karena bermain tidak
lebih lama daripada
Forlan. Hebatnya,
Forlan adalah pemain
yang memenangi "Bola
Emas" alias Golden Ball,
sebagai pemain
terbaik turnamen.
Sabtu, 17 Juli 2010
Kemana Rp 2,25 Miliar Itu?
KOMPAS.com - Piala
Dunia 2010 berakhir
dengan digelarnya
laga final Belanda
versus Spanyol di
Soccer City,
Johannesburg, Senin
(12/7) dini hari WIB.
Pertanyaannya: apa
yang bisa dipetik dari
perhelatan akbar
sepak bola sebulan
penuh tersebut,
terutama bagi sepak
bola Tanah Air? Itu
pertanyaan bagi
seluruh pemangku
kepentingan sepak
bola nasional,
terutama bagi PSSI.
Sebulan penuh sudah,
publik sepak bola di
Tanah Air mendapat
suguhan dan
tontonan sepak bola
level tinggi oleh 32
tim Piala Dunia 2010.
Ada hal negatif yang
tidak perlu dicontoh,
tetapi banyak hal
positif yang patut
diteladani.
Sempat diragukan di
awal, Afrika Selatan
secara keseluruhan
menjawab secara
konkret dengan
sukses menggelar
ajang olahraga paling
digemari itu.
Suara-suara
pesimistis yang dulu
terdengar kini
berubah menjadi
pujian. ”Saya melihat
sendiri, turnamen ini
diselenggarakan luar
biasa, atmosfernya
juga hebat. Setelah
datang sendiri, harus
saya katakan, Afrika
Selatan pasti bangga
(dengan hal ini), ” kata
Angela Merkel,
Kanselir Jerman, pada
situs FIFA.
Perempuan penggila
sepak bola itu hadir,
menonton langsung,
dan menari
kegirangan di tribune
saat Jerman
menggilas Argentina
4-0 di perempat final.
Sabtu (10/7),
Presiden Afrika
Selatan Jacob Zuma
berpidato yang
disiarkan stasiun-
stasiun televisi lokal
bahwa ”Kesuksesan
Piala Dunia 2010 ini
kemenangan bagi
Afrika ”.
Tonik bagi Blatter
Kesuksesan
penyelenggaraan
Piala Dunia 2010 pasti
mendongkrak posisi
Presiden FIFA Sepp
Blatter, yang dari
awal mengotot
menggelar Piala Dunia
di Afrika meski
ditentang sana-sini.
Masa jabatan Blatter
selaku Presiden FIFA
bakal berakhir 2011,
dan ia secara terbuka
menyatakan akan
mencalonkan diri lagi
untuk empat tahun
berikutnya.
Hal itu ditegaskan
kembali pada Kongres
FIFA di Sandton,
Johannesburg,
menjelang Piala
Dunia, Juni lalu.
Seperti halnya
presiden atau ketua
asosiasi-asosiasi
sepak bola seluruh
dunia dan presiden
konfederasi, masa
jabatan Presiden FIFA
empat tahun dan
setelah habis masa
jabatan itu, ia bisa
dipilih berulang-ulang
tanpa batas waktu.
Waktu itu
pernyataan terbuka
Blatter disambut
tepuk tangan meriah
208 utusan asosiasi
anggota FIFA.
Namanya juga punya
maksud, setelah
mengumumkan
keuntungan finansial
badan sepak bola
dunia tahun lalu
sebesar lebih dari
satu miliar dollar AS
(sekitar Rp 9 triliun),
Blatter pun membagi-
bagikan bonus
250.000 dollar AS
(sekitar Rp 2,25
miliar) bagi setiap
asosiasi anggota
FIFA dan 50 juta
dollar AS bagi enam
konfederasi di bawah
FIFA.
PSSI juga hadir dalam
kongres itu, diwakili
Ketua Umum Nurdin
Halid dan pengurus
lainnya. Seperti para
wakil asosiasi
lainnya, PSSI juga
kecipratan bonus Rp
2,25 miliar. Namun,
perlu dicatat, kucuran
uang FIFA itu
bukanlah bonus bagi
pengurus PSSI,
melainkan dana yang
dimaksudkan FIFA
untuk pengembangan
sepak bola.
Pelesir pengurus
PSSI
Senin (5/7), kurang
dari sebulan setelah
Blatter
mengumumkan
pencairan bonus Rp
2,25 miliar untuk para
asosiasi, puluhan
pengurus teras PSSI
pusat dan daerah
terbang dan pelesir
ke Afrika Selatan.
Seperti dikutip
Kompas.com, mereka
berjumlah 60 orang.
Mereka dijadwalkan
menyaksikan laga
semifinal dan final
Piala Dunia 2010.
Setiap orang
diperkirakan
menghabiskan biaya
sekitar Rp 75 juta,
meliputi uang saku,
penginapan, tiket,
dan akomodasi. Dari
mana uang untuk
membiayai
keberangkatan
mereka ke Afrika
Selatan? Seperti
biasa, tidak ada
keterangan yang
jelas. Sebagian dari
mereka terlihat di
Cape Town saat
semifinal Belanda
versus Uruguay
berlangsung.
Saat disinggung
puluhan pengurus
PSSI pusat dan
daerah yang pelesir
ke Afrika Selatan itu,
anggota Komite
Eksekutif PSSI,
Bernhard Limbong,
dikutip kantor berita
Antara, Selasa (6/7),
menyebutkan bahwa
hal itu sedikit hura-
hura saja, tetapi itu
juga hak mereka
untuk ke sana. ”Saya
memang tidak ikut
ke Afrika Selatan, ”
kata Limbong.
Gaya hidup pengurus
PSSI itu sangat ironis
jika melihat kondisi
persepakbolaan
Tanah Air akhir-akhir
ini. Bukan hanya
paceklik prestasi di
ajang internasional,
pengelolaan
keuangan PSSI juga
kacau dan tidak jelas.
Pelesir para pengurus
PSSI itu
memprihatinkan jika
mengingat bahwa
gaji tim nasional
futsal yang
mengharumkan
bangsa Indonesia
sebagai juara ASEAN
belum dibayar.
Inikah pelajaran dari
Piala Dunia 2010
untuk sepak bola
Indonesia?
Menyedihkan! (MH
SAMSUL HADI, dari
Johannesburg,
Afrika Selatan)
Kamis, 15 Juli 2010
Daftar Kiper-Kiper Terbaik Piala Dunia
detikcom - Jakarta,
Kapten Spanyol Iker
Casillas terpilih sebagai
penjaga gawang
terbaik di Piala Dunia
2010. Siapa saja para
kiper yang dinilai paling
menawan di setiap
edisi Piala Dunia,
berikut ini daftarnya:
1930 Enrique
Ballesteros (Uruguay)
1934 Ricardo Zamora
(Spanyol)
1938 Frantisek
Planicka
(Cekoslowakia)
1950 Roque Maspoli
(Uruguay)
1954 Gyula Grosics
(Hongaria)
1958 Harry Gregg
(Irlandia Butara)
1962 Viliam Schrojf
(Cekoslowakia)
1966 Gordon Banks
(Inggris)
1970 Ladislao
Mazurkiewicz
(Cekoslowakia)
1974 Jan
Tomaszewski
(Polandia)
1978 Ubaldo Fillol
(Argentina)
1982 Dino Zoff (Italia)
1986 Harald
Schumacher (Jerman)
1990 Sergio Goycochea
(Argentina)
1994 Michel
Preud'homme (Belgia)
1998 Fabien Barthez
(Prancis)
2002 Oliver Kahn
(Jerman)
2006 Gianluigi Buffon
(Italia)
2010 Iker Casillas
(Spanyol)
Catatan:
- Predikat kiper terbaik
baru resmi diadakan di
Piala Dunia 1994,
dengan titel Lev Yashin
Award. Sebelumnya,
kiper-kiper terbaik
tersebut diambil dari
daftar tim All Star
Piala Dunia.
- Mulai Piala Dunia 2010
titel Lev Yashin Award
diganti menjadi
Golden Glove Award
alias "Sarung Tangan
Emas".
Selasa, 13 Juli 2010
Pesta Dan Tangis Akhiri Piala Dunia
JOHANNESBURG,
KOMPAS.com —
Selalu saja ada pesta
luar biasa di atas
tangis. Banyak tangis
pula di sela-sela
pesta mengakhiri
Piala Dunia. Begitu
juga dengan Piala
Dunia 2010.
Kemenangan Spanyol
1-0 atas Belanda di
final Piala Dunia 2010
langsung disambut
pesta di mana-mana
oleh warga Spanyol
dan pendukungnya.
Namun, hasil itu
menimbulkan tangis
dan luka buat
Belanda.
Bahkan, luka Belanda
terasa begitu
menganga. Bertahun-
tahun berusaha
meraih Piala Dunia,
bahkan sudah masuk
ke final, tetapi selalu
gagal.
Belanda ke final Piala
Dunia tahun 1974,
1978, dan terakhir
2010. Itu pula yang
tampaknya
membuat tangis
Belanda lebih
menyesakkan. Air
mata Wesley
Sneijder, Arjen
Robben, Robin van
Persie dkk
merupakan cerminan
kekecewaan yang
dalam. Dan, dalam
sekejap, puluhan,
ratusan, bahkan
ribuan pendukung
meledak dalam
tangis. Itu terlihat di
FIFA Fan Fest
ataupun di stadion.
Di sisi lain, sorak-
sorai kegembiraan
seolah ingin
menenggelamkan
segalanya. Suka dan
tawa Iker Casillas
dkk langsung
disambut pesta di
mana-mana. Bahkan,
menurut beberapa
suporter Spanyol,
mereka siap
berpesta sebulan
penuh.
Ada pula yang kaul
akan telanjang bulat
di depan umum. Ada
pula yang akan
memotong rambut,
ada pula yang akan
menghabiskan
sebulan penuh
bersama pacarnya.
"Oh, Bung. Akan ada
pesta panjang dan
bisa sebulan selalu
ada di negara kami
jika Spanyol juara
Piala Dunia," kata
Aime, asal Madrid,
sebelum partai final.
Ana dan Elena, dua
wanita asal
Barcelona, siap larut
dalam berbagai pesta
di Afsel dan
negaranya. Bahkan,
mereka juga
menyiapkan pesta
istimewa dan khusus
bersama kekasihnya.
Ada suka, ada duka.
Ada tawa, ada luka.
Ada keriangan, ada
pula ratapan.
Begitulah sejarah
akhir kompetisi Piala
Dunia. Sebab, ini
bukan sekadar bola,
bukan sekadar
pertandingan
semata. Ada banyak
makna yang
terkandung di
dalamnya.
Minggu, 04 Juli 2010
Sepakbola,Biko,dan anti-Apartheid
Laporan langsung
wartawan
Kompas.com, Hery
Prasetyo, dari
Afrika Selatan.
PRETORIA,
KOMPAS.com -
Sepak bola
sebenarnya cukup
mengakar di
masyarakat kulit hm
dan itam di Afrika
Selatan. Bahkan,
olahraga ini amat
merakyat, karena
mudah dan bisa
dimainkan di mana
saja.
Di era Apartheid,
sepak bola malah
menjadi katarsis bagi
rakya yang tertindas.
Mereka sering
memainkan sepak
bola di mana pun,
termasuk di lahan-
lahan sempit. Jika tak
ada bola, rumput
digulung pun bisa
dimainkan.
Itu yang terjadi di
masa Apartheid.
Sebab, fasilitas
umum yang penting
dikuasai kulit putih.
Sedangkan kulit
hitam dan berwarna
harus hidup di areal
berbeda yang
biasanya kumuh,
gersang, dan
terpojok.
Masyarakat kulit
hitam dan berwarna
terus mendapat
tekanan. Mereka tak
diberi ruang sedikit
pun untuk
menyalurkan
pendapat,
berekspresi, apalagi
memprotes politik
Apartheid yang jelas-
jelas menindas kaum
lain sejak ratusan
tahun dan bahkan
dinyatakan secara
resmi pada 1948.
Meski begitu, di
antara kesempitan
berpendapat dan
berekspresi, ada
sedikit ruang yang
bisa dimanfaatkan
masyarakat kulit
hitam untuk saling
berdiskusi,
menyalurkan
pendapat, dan
memikirkan masa
depan. Ruang itu
salah satunya
bernama sepak bola.
Ya, pemerintah
berkuasa kulit putih
waktu itu tak terlalu
curiga jika warga kulit
hitam bermain sepak
bola. Ini
dimanfaatkan betul
oleh orang kulit putih.
Salah satu tokoh
anti-Apartheid yang
memanfaatkannya
adalah Steven Biko
atau sering dipanggil
Steve Biko.
Dia adalah aktivis
anti-Apartheid yang
terus berjuang
menghapuskan politik
pembecaan rasial itu
di bumi Afsel. Seperti
halnya Nelson
Mandela, Biko juga
konsisten terhadap
perjuangannya.
Dia banyak menulis
artikel yang terus
mengkritik Apartheid.
Dia juga terus
berusaha
membangkitkan
warga kulit hitam
agar lebih kuat. Ada
satu kalimat darinya
yang sangat populer
di Afsel, "Hitam itu
indah."
Namun, pada 1973,
Biko dibatasi
gerakannya. Dia tak
boleh lagi berbicara
dengan lebih dari satu
orang. Dia tak boleh
berbicara di depan
massa.
Biko tak kurang akal.
Dia pindah ke Eastern
Cape, tempat
kelahirannya. Di sini,
pengawasan tetap
ketat, tapi masih
sedikit leluasa. Dia
banyak
memanfaatkan
sepak bola untuk
menyampaikan
pesan-pesannya.
Sembari bermain
sepak bola, dia sering
berbicara kepada
pemain lain agar
pesaannya
disebarkan. Ini salah
satu cara dia
mengatasi tekanan
untuk
membangkitkan
warga kulit hitam.
Dalam tekanan
seperti itu, dia masih
bisa membentuk
organisasi-organisasi
yang bertujuan
menyadarkan rakyat
kulit hitam akan
kesamaan,
kemerdekaan, dan
kebebasan.
Polisi Afsel akhirnya
menangkap Biko pada
21 Agustus 1977. Dia
disiksa di penjara.
Pada 11 September
1977, polisi
memasukkannya ke
mobil Land Rover
untuk dibawa dari
Cape Town ke
Pretoria. Karena
besarnya siksaan,
sesampainya di
Pretoria Biko
meninggal dunia
dengan kepala penuh
luka siksaan. Namun,
hingga kini para pollisi
penyiksanya tak
pernah ditahan.
Biko telah gugur.
Mungkin dia tak
pernah bisa
merasakan
kebebasan kulit
hitam setelah
Apartheid
dihabpuskan pada
1994. Namun,
namanya akan selalu
dikenang. Bahkan, dia
disebut martir anti-
Apartheid.
Rakyat Afsel kini
menghormatinya.
Sebab, Biko ikut
meletakkan dasar-
dasar pejuangan
menghilangkan
Apartheid dari bumi
Afsel. Dan, salah
satu jalan
perjuangannya adalah
lewat sepak bola.
Ah, seandainya
masih hidup, dia akan
sangat bahagia
karena negerinya bisa
menjadi tuan rumah
Piala Dunioa 2010.
Bahkan, dia pasti
akan mendapat
tempat dan waktu
untuk berpidato di
acara pembukaan,
seperti halnya
Desmond Tutu, Jacob
Zuma, dan Nelson
Mandela (sayang
Mandela akhirnya
urung). Namun, jelas
dia tak akan bicara
soal memerangi
Apartheid, melainkan
kejayaan dan
kebanggan Afsel
secara keseluruhan,
tanpa membedakan
warna kulit.
"Different tribe, one
pride, one support,
one win," demikian
slogan Afsel yang
artinya, berbeda suku
tapi satu
kebanggaan, satu
dukungan, dan satu
kemenangan.
(Bersambung)
Senin, 28 Juni 2010
Apartheid, Kepedihannya Masih Terasa
JOHANNESBURG,
KOMPAS.com —
Berada di Afrika
Selatan (Afsel)
rasanya tak afdal jika
tak mengenang
kembali apartheid di
negeri itu. Politik
pembedaan
berdasarkan ras
tersebut memang
sebuah kejahatan
kemanusiaan amat
menakutkan.
Kulit putih yang
berkuasa
menempatkan diri
sebagai warga paling
istimewa, sedangkan
warga kulit berwarna
(coloured) dan kulit
hitam dianggap
warga pinggiran.
Penguasa bahkan
selalu menekan,
menyiksa, dan
membantai warga
kulit hitam demi
mempertahankan
kekuasaan dan
keistimewaannya
sebagai warga
spesial.
Apartheid
sebenarnya sudah
berlangsung lama di
Afsel. Namun,
pemerintahan
National Party
menetapkannya
secara resmi dan
diperkuat dengan
undang-undang pada
1948. Apartheid baru
berakhir pada 1994.
Artinya, politik
membedakan warga
berdasarkan ras itu
baru berakhir dalam
16 tahun. Sangatlah
muda. Sementara
apartheid sudah
berlangsung ratusan
tahun meski secara
resmi baru pada
1948.
Digelarnya Piala Dunia
2010 di Afsel seolah
kembali
mengingatkan warga
dunia kepada
kekejaman apartheid.
Wajar jika suporter
dari luar negeri
banyak yang
menyempatkan diri
mengunjungi Museum
Apartheid di
Johannesburg.
Senin (14/6/2010),
Kompas.com
berkesempatan
mengunjungi
museum bersejarah
itu. Begitu masuk,
kepedihan akibat
apartheid masih
terasa. Bahkan, hati
seolah teriris-iris
mengenang luka
menganga, juga
derita yang dialami
warga non-kulit putih
(terutama kulit
hitam) selama
kekuasaan apartheid
yang berakhir 1994
itu.
Museum itu menjadi
rekaman kekejaman
apartheid, juga
perjuangan warga
tertindas
menegakkan
keadilan. Pengelola
memberi dua jenis
tiket: jalan putih atau
hitam. Ini langsung
mengingatkan
kembali masa-masa
apartheid yang
memisahkan warga
kulit putih dan hitam,
baik dalam perlakuan,
kekuatan hukum,
fasilitas, wilayah,
maupun hak-haknya.
Apalagi, begitu
masuk ruang
museum langsung
disuguhi beberapa
kartu identitas
korban tewas akibat
kekejaman apartheid.
Setelah itu, kita bisa
membaca kembali
beberapa pernyataan
tokoh kulit putih
maupun kulit hitam,
dari Steven Biko,
Desmond Tutu,
sampai sang tokoh
besar anti-apartheid
Nelson Mandela.
Tentu, Mandela
mendapat porsi yang
besar di museum itu.
Selain ada beberapa
catatan pidato
Mandela, Biko, dan
Tutu, ada pula ruang
penjara tiruan yang
dipakai pemerintah
apartheid untuk
mengurung warga
kulit hitam yang
dianggap
membangkang.
Bahkan, ada ruangan
penuh tali gantungan,
menggambarkan
betapa banyak
warga kulit hitam
yang pernah
digantung oleh
pemerintah
apartheid.
Mobil Mandela juga
dipajang di sana,
selain beberapa buku
dan catatan masa
lalu. Selain itu, juga
ada beberapa
catatan tentang
apartheid yang bisa
menjadi referensi
maupun kenangan
pahit, sekaligus
pelajaran
kemanusiaan.
Museum juga
menyediakan dua
ruang teater. Yang
satu menjelaskan
sejarah Afrika
Selatan dan
munculnya apartheid.
Satunya lagi
menyajikan film
tentang kekejaman
pemerintah apartheid
selama berkuasa.
Rekaman
dokumenter itu
masih begitu jelas.
Polisi kulit putih tak
segan-segan
menyerbu
perkampungan kulit
hitam, kemudian
menyeret pemuda
dan anak-anak.
Mereka biasanya
akan diinterogasi dan
disiksa. Ada pula
rekaman gerakan
anti-apartheid yang
dibalas oleh
kekejaman tentara
dan polisi kulit putih.
Menculik, menyiksa,
membunuh, dan
menahan para
tokohnya tergambar
jelas dalam rekaman
film itu. Bahkan,
anak-anak pun tak
lepas dari
penangkapan untuk
disiksa, diintimidasi,
dan dicuci otaknya.
"Orang kulit putih
adalah penguasa
Afrika Selatan. Dan,
secara alamiah dari
asalnya, dari lahirnya,
juga dari
kekuatannya, orang
kulit putih akan tetap
berkuasa di Afrika
Selatan sampai akhir
zaman," demikian
pernyataan arogan
dewan perwakilan
rakyat semasa
pemerintahan
apartheid pada 15
Maret 1950, seperti
terpampang dalam
catatan di museum
itu.
Arogansi itu
ditentang oleh para
tokoh kulit hitam,
termasuk Nelson
Mandela. Tokoh yang
rela dihukum selama
27 tahun itu pernah
mengatakan,
"Kebebasan bukan
semata-mata
melepaskan rantai
dari tangan
seseorang.
Kebebasan adalah
hidup dengan cara
yang saling
menghormati dan
saling membantu
kebebasan orang
lain."
Arogansi kekuasaan
kulit putih yang
didasarkan pada
sentiman ras
bertarung dengan
semangat kebebasan
hakiki kulit hitam.
Sebuah pertarungan
sengit yang
meninggalkan
catatan hitam dan
kelam, juga mengiris
hati hingga
mengaduk lubuk
paling dalam. Sebab,
pada akhirnya
arogansi itu
menampakkan
kekejamannya.
Namun, di sisi lain ada
haru-biru yang
menggumpal di kalbu.
Sebab, perjuangan
para tertindas
membangun
persamaan,
kebebasan, dan
kemerdekaan begitu
luar biasa. Apalagi,
perjuangan yang
dilalui dengan derita
dan luka itu akhirnya
menemukan
keberhasilannya.
Sudah 16 tahun
apartheid dibubarkan.
Afsel kini menjadi
negara demokrasi
yang menganut
persamaan ras,
kebebasan,
kemerdekaan,
tanggung jawab, dan
kesediaan melakukan
rekonsiliasi. Sebuah
tujuan mulia yang
akan menuntun Afsel
menuju masa depan
lebih baik.
Namun, luka
apartheid itu masih
terasa. Masa 16
tahun terlalu singkat
untuk menghilangkan
segala nyeri dan
ngeri, duka dan luka,
pilu dan kelu, tangis
dan teriris, kematian
dan kepedihan, darah
dan amarah.
(Bersambung)
Minggu, 27 Juni 2010
Maradona Maafkan Platini, Tidak Untuk Pele
TEMPO Interaktif ,
Johannesburg - Diego
Maradona meminta
maaf di hadapan publik
kepada Presiden UEFA,
Michel Platini, atas
komentar yang pernah
dilontarkannya terhadap
legenda Prancis itu
beberapa hari
sebelumnya.
Tapi, pelatih timnas
Argentina itu
menegaskan tak mau
melakukan hal serupa
kepada Pele yang juga
jadi sasaran
kecamannya.
“Saya ingin
menyempaikan
permohonan maaf saya
lewat kalian (para
reporter) kepada Mr
Platini … Tapi, tidak
kepada Pele,” ujar
Maradona dalam jumpa
pers seusai
kemenangan 4-1
Argentina atas Korea
Selatan, Kamis (17/6).
“Beberapa hari yang lalu,
saya berkomentar
tentang Mr Platini. Mr
Platini kemudian
mengirimkan surat
kepada saya yang
menyatakan ia tak
pernah mengatakan
seperti apa yang kalian
(para reporter) bilang
kepada saya, ” tambah
Maradona.
Sebelumnya, Platini
dikabarkan telah
mengkritik kemampuan
Maradona sebagai
pelatih dengan
menyebut ia hanya jadi
pelatih yang bagus saat
masih jadi pemain.
Kritikan serupa juga
dilontarkan Pele.
Maradona kemudian
balik menyerang kedua
sosok legendaris itu
dengan mengatakan
Pele seharusnya
kembali ke museum dan
menyebut Platini
merasa lebih besar
daripada apa pun di
dunia ini karena ia orang
Prancis.
Di pengujung
wawancara, Maradona
menjawab pertanyaan
kebiasaanya memeluk
dan mencium para
pemainnya seusai
pertandingan.
“Saya suka perempuan…
Jadi publik jangan
menyangka saya telah
berpindah jalur, ” tandas
Maradona.
Kamis, 24 Juni 2010
Afsel yang Pertama Setelah As
detikcom - Jakarta,
Tampil sebagai tuan
rumah Piala Dunia
2010, Afrika Selatan
kalah dalam laga
kedua fase grup. Afsel
pun mengikuti jejak
Amerika Serikat tahun
1994.
Semenjak AS
menyerah 0-1 dari
Rumania di fase grup
Piala Dunia 1994,
belum ada lagi tuan
rumah yang kalah
dalam
pertandingannya di
fase grup.
Prancis (1998), Jepang
dan Korea Selatan
(2002) dan Jerman
(2006) kesemuanya
tak ada yang
melewati fase grup
dengan kekalahan.
Prancis dan Jerman
mulus dengan tiga
kemenangan
sementara Jepang dan
Korsel dua kali menang
dan sekali imbang.
Dengan demikian,
kekalahan 0-3 yang
diderita Afsel saat
menghadapi Uruguay,
Kamis (17/6/2010)
dinihari WIB, menjadi
kekalahan pertama
negara tuan rumah
semenjak kekalahan
AS.
Nasib Afsel kini cukup
merisaukan karena
cuma punya satu poin
hasil dari dua laganya.
Pada tahun 1994 AS
lebih beruntung karena
saat itu peserta Piala
Dunia cuma 24 negara
sehingga empat tim
posisi tiga terbaik,
termasuk AS, bisa
maju ke babak 16
besar.
Peluang Afsel sendiri
memang masih belum
habis dan setidaknya
ada satu catatan yang
mungkin bisa bikin
mereka terlecut
semangatnya: belum
pernah ada tuan
rumah Piala Dunia yang
gagal lolos ke babak
dua.
Pemain Termuda, Tertua Dan Terpendek Di Piala Dunia 2010
Serba-serbi piala
dunia 2010 kali ini akan
membahas mengenai
pemain paling muda,
pemain paling tua,
pemain terpendek serta
semua yang unik
mengenai piala dunia
2010 ini,
» Kita mulai saja dari pemain paling muda di piala dunia 2010 ini adalah adalah Christian
Eriksen dari Denmark.
Usianya baru mencapi
18 tahun 3 bulan. Ia
lebih muda sebulan
dibanding pemain
Kamerun, Vincent
Aboubakar.
» Pemain Tertua Kiper Inggris David James tercatat sebagai pemain tertua di perhelatan
Piala Dunia 2010. Usia
kiper Portsmouth itu
mencapai 39 tahun 10
bulan.Seperti dilansir
Sport Intellegence,
Senin 7 Juni 2010, usia
James lebih tua tiga
bulan dibanding kiper
ketiga Belanda Sander
Boschker.
» Pemain terpendek Pemain Tottenham Hotspur, Aaron Lenon yang mempunyai tinggi
badan 165 cm masuk
dalam daftar pemain
terpendek yang
dikeluarkan oleh The
Global Herald. Dengan
demikian Inggris
mencatatkan diri
sebagapi tim pemilik
pemain terpendek di
ajang Piala Dunia 2010
ini
Nah itulah beberapa
serba-serbi mengenai
pila dunia 2010 kali ini
Senin, 21 Juni 2010
Kamerun Tenggelam dalam Dinginnya Malam
PRETORIA,
KOMPAS.com -
Cuaca tak
bersahabat
menemani duka para
pendukung Kamerun
setelah tim
kesayangan mereka
kalah melawan
Denmark. Suhu dingin
di Pretoria semakin
menusuk hati
mereka yang terluka
karena Kamerun
gagal menembus
fase grup Piala Dunia
2010.
Sabtu (19/6/2010)
malam di Pretoria
akan selalu mereka
ingat sebagai akhir
pekan penuh duka di
Afrika. Dalam
jebakan suhu minus
dua derajat Celcius,
pendukung "Singa
Afrika" harus pulang
dari Stadion Loftus
Verfeld dengan
wajah muram, nyaris
tanpa ekspresi.
Kepulangan mereka
menjadi sangat
kontras dibanding
keberangkatan
mereka ke arena
tersebut. Tidak ada
lagi pawai penuh
kegembiraan
sebagaimana mereka
datang ke tempat
itu. Tak ada lagi
kebahagiaan seperti
ketika Samuel Eto'o
menjebol gawang
Thomas Sorensen.
Di sepanjang Jalan
Westwoods,
Eastwoods, dan
Wessel
Street, wartawan
Tribunnews.com
Mohamad
Nurfahmi Budi
melihat iring-iringan
suporter Kamerun
seperti membeku
bersama dinginnya
udara. Mulut mereka
enggan
membunyikan lagi
vuvuzela. Tangan
mereka tak
berhasrat menabuh
genderang. Suasana
berganti dengan
perasaan sedih
karena Kamerun
menjadi tim pertama
yang harus
mengucapkan
selamat tinggal
kepada Afrika
Selatan selaku tuan
rumah piala dunia kali
ini.
Kamerun masih harus
menjalani satu
pertandingan lagi
melawan pimpinan
Grup D, Belanda.
Namun, laga itu
hanya sebatas
formalitas karena
tak akan
memengaruhi posisi
mereka dalam
klasemen. Kalaupun
Eto'o dkk berjuang
mati-matian, itu
semata-mata untuk
menjaga kehormatan
supaya mereka tak
pulang tanpa poin,
syukur bisa menang.
Hal sebaliknya
diperlihatkan barisan
suporter Denmark.
Jumlah mereka kira-
kira hanya 2.000
orang, tapi reaksi
kemenangan mereka
pertontonkan dengan
sangat nyata. Ada
yang menari,
berpelukan
antarsesama
suporter, sampai
meniup vuvuzela
memecah keheningan
malam. Mereka
melakukannya
setelah rombongan
suporter Kamerun
lewat dengan tenang
di jalanan pusat kota
Pretoria. Sebuah
sikap dewasa yang
menghargai
kepedihan lawan.
(Tribunnews.com/
bud)
Capello Tolak Sebutan "Kick And Rush"
CAPE TOWN,
KOMPAS.com —
Pelatih Inggris Fabio
Capello heran
terhadap pernyataan
Franz Beckenbauer.
Menurut Capello,
Inggris tak
memainkan kick and
rush seperti
ditudingkan
Beckenbauer.
Setelah duel Inggris
versus Amerika
Serikat yang berakhir
imbang 1-1,
Beckenbauer
memberikan
penilaiannya terhadap
penampilan "The
Three Lions". Ia
menyebut negara
asal sepak bola itu
kurang kreatif
sehingga harus
banyak membuang
bola ke depan, tipikal
kick and rush. Pemain
legendaris Jerman itu
beranggapan, cara
seperti itu
merupakan dampak
dari banyaknya
pemain asing di Liga
Inggris.
"Saya terkejut
dengan
komentarnya," kata
Capello kepada BBC
Radio Five Live.
"Ketika Anda bicara
soal tim lain, Anda
harus menunjukkan
rasa hormat kepada
mereka. Bicara soal
sebuah tim memang
mudah jika Anda
duduk di bangku
penonton. Namun,
Anda harus
menyaksikan laga
secara langsung."
"Kami tidak
memainkan bola-bola
panjang. Kami
memainkan banyak
umpan dan punya
peluang mencetak
gol. Karena alasan ini,
saya tak paham apa
yang Beckenbauer
katakan,"
tambahnya.
Capello menerangkan,
salah satu kesulitan
para pemain dalam
Piala Dunia kali ini
adalah bola yang
mereka mainkan.
Sama seperti Pelatih
Argentina Diego
Maradona, Capello
juga menyebut bola
Jabulani sangat jelek.
"Ini bola terburuk
yang pernah saya
lihat dalam hidup
saya. Ini bencana bagi
para pemain. Ini
buruk bagi kiper
karena tak mungkin
memantau
pergerakannya.
Ketika Anda
berusaha
memakainya untuk
umpan jarak jauh,
sangat sulit
memahami ke mana
bola bergerak.
Namun, masalah
yang benar-benar
besar adalah kadang
bola ini tak mungkin
dikendalikan,"
paparnya.
Akibat buruknya
karakter bola baru
tersebut, kiper
Inggris, Robert Green,
gagal mengantisipasi
tendangan Clint
Dempsey. Bola lepas
dari tangkapannya
dan masuk ke
gawang sendiri.
Swiss Akhiri Penantian 85 Tahun
DURBAN,
Kompas.com -
Swiss tampil sangat
mengagumkan ketika
melakoni laga
perdana penyisihan
Grup H Piala Dunia
2010 di Stadion
Moses Mabhiba,
Durban, Rabu
(16/6/10). Melawan
juara Eropa yang juga
favorit juara,
Spanyol, tim besutan
Ottmar Hitzfeld ini
menang 1-0, lewat
gol Gelson Fernandes
pada menit ke-51.
Hasil spektakuler ini
pun mengakhiri
penantian Swiss
selama 85 tahun,
yang tidak pernah
menang lawan
Spanyol. Pasalnya,
dalam 18 pertemuan
sebelumnya sejak
mereka untuk
pertama kali
bertarung pada
pertandingan ujicoba
di Berne, 1 Juni 1925
(Spanyol menang
3-0), hasil terbaik
Swiss adalah imbang.
Namun, kerinduan
untuk menjinakkan
"El Matador" itu
terjadi pada
pertemuan ke-19 di
Afrika Selatan. Tak
ayal, keberhasilan
tersebut disambut
dengan penuh
sukacita. Apalagi, kali
ini Spanyol datang
dengan status
penguasai Eropa,
seperti yang
dilukiskan pelatih
Ottmar Hitzfeld.
"Ini kemenangan
bersejarah!" ungkap
pelatih Swiss asal
Jerman tersebut,
usai pertandingan.
"Kami tidak pernah
mengalahkan Spanyol
sejak dulu. Kami telah
melakukan sebuah
langkah maju dan
membuka peluang ke
babak kedua. Tetapi,
kami harus tetap
penuh perhatian dan
fokus," tambah
pelatih berusia 61
tahun tersebut, yang
tercatat sebagai
satu dari hanya tiga
pelatih, yang meraih
gelar juara Liga
Champions bersama
dua klub berbeda.
Memang, dalam
pertandingan
tersebut Swiss
menunjukkan daya
juang yang luar biasa.
Meskipun terus
mendapat tekanan,
mereka berhasil
menutup semua
celah yang
memungkinkan para
pemain Spanyol
melakukan penetrasi.
Selain itu, penampilan
gemilang penjaga
gawang Diego
Benaglio juga menjadi
sebuah kunci
keberhasilan Swiss,
karena dia beberapa
kali menggagalkan
peluang "La Furia
Roja".
Dan, pada menit
ke-51 Gelson
Fernandes membuat
kejutan besar, ketika
dia mengoyak jala
Iker Casillas.
Memanfaatkan
sebuah kemelut di
depan gawang,
Fernandes mencocor
bola ke dalam
gawang yang tidak
terkawal lagi. Inilah
satu-satunya gol
dalam laga tersebut,
sekaligus pencatat
sejarah baru
persepakbolaan
Swiss dalam
usahanya
meruntuhkan
dominasi Spanyol
terhadap mereka.
- Rekor pertemuan
Piala Dunia
2010 Durban,
Afsel
16/06/2010
Spanyol 0:1 (0:0)
Swiss Penyisihan
grup
1994 Washington
Dc
02/07/1994
Spanyol 3:0 (1:0)
Swuss 16 Besar
1966 Sheffield
15/07/1966
Spanyol 2:1 (0:1)
SwissI Penyisihan
grup
Kualifikasi Piala Dunia
1958 Lausanne
24/11/1957
Swiss 1:4 (0:2)
Spanyol Putaran
pertama
1958 Madrid
10/03/1957
Spanyol 2:2 (2:1)
Swiss Putaran
pertama
Persahabatan
1989 Santa Cruz De
Tenerife
13/12/1989
Spanyol 2:1 (1:0)
Swiss
1987 Basel
05/06/1988 Swiss
1:1 (0:1)
Spanyol
1984 Geneva
26/05/1984 Swiss
0:4 (0:3)
Spanyol
1982 Valencia
28/04/1982
Spanyol 2:0 Swiss
1977 Berne
21/09/1977 Swiss
1:2 Spanyol
1970 Lausanne
22/04/1970 Swiss
0:1 Spanyol
1969 Valencia
26/03/1969
Spanyol 1:0
Swiss
1955 Geneva
19/06/1955 Swiss
0:3 Spanyol
1951 Madrid
18/02/1951
Spanyol 6:3
Swiss
1948 Zürich
20/06/1948 Swiss
3:3 Spanyol
1941 Valencia
28/12/1941
Spanyol 3:2
Swiss
1936 Berne
03/05/1936 Swiss
0:2 Spanyol
1927 Santander
17/04/1927
Spanyol 1:0
Swiss
1925 Berne
01/06/1925 Swiss
0:3 Spanyol
Swiss Samai Italia
detikcom - Durban,
Swiss memang bukan
negara tradisional di
Piala Dunia. Namun
kemenangan 1-0 atas
Spanyol membuat
Schweizer Nati
menyamai rekor juara
dunia empat kali Italia.
Soal?
Melawan Spanyol pada
pertandingan
perdananya di Grup H,
Rabu (16/6/2010)
malam WIB, Swiss
jelas menjadi
underdog. Namun
status tersebut tak
bikin tim asuhan
Otmar Hitzfeld itu
ngeper duluan dan
malah mampu
merepotkan Spanyol
sepanjang laga.
Total 24 tendangan
dilepaskan pasukan
Matador ke gawang
Swiss namun kiper
mereka Diego Benaglio
mampu menjaga
gawangnya dari
kebobolan. Sebaliknya
Spanyol malah harus
dibobol oleh Gelson
Fernandes di menit
ke-51 dan itu jadi
satu-satunya gol
dalam laga itu.
Suasana gembira pun
menyelimuti Swiss
karena mereka
berhasil menghapus
rekor buruk dari
Spanyol di pentas
internasional. Dalam
dua pertemuan
terakhir di PD 1966 dan
1994, Swiss selalu
kalah dari Spanyol.
Tak hanya itu
perawannya gawang
Benaglio pada laga tadi
membuat peringkat
ke-24 FIFA itu
menorehkan rekor tak
kebobolan dalam lima
laga beruntun di Piala
Dunia sejak Jerman
2006. Sebelumnya
rekor tersebut
dipegang Italia
sendirian yang
melakukannya di PD
1990.
Saat tersingkir empat
tahun lalu dari Ukraina,
Swiss kalah dari adu
penalti setelah
bermain imbang 0-0.
Terakhir kali Swiss
kebobolan adalah saat
kalah 0-3 dari Spanyol
di babak 16 besar
Amerika Serikat 16
tahun lalu.
Reuni Keluarga di Afsel
detikcom - Jakarta,
Ada saja family affair
di turnamen besar
termasuk Piala Dunia
2010. Ada yang adik-
kakak, menantu-
mertua, sampai
saudara tiri yang
membela negara yang
berbeda. Siapa saja
mereka?
Slovakia memiliki
pemain gelandang
bernama Vladimir
Weiss (20). Ia adalah
anak sang pelatih tim,
yang juga bernama
sama, Vladimir Weiss
(45). Mereka memang
keturunan
pesepakbola karena
kakek Weiss muda
pernah membela
timnas Cekoslowakia
dan ikut Olimpiade
1964. Namanya juga
Vladimir Weiss!
Hubungan ayah dan
anak juga menghiasi
tim Amerika Serikat.
Pelatih Bob Bradley
adalah ayah dari
Michael Bradley,
pemain tengah
andalan The Yanks.
Dari kelompok adik-
kakak, Pantai Gading
memiliki sepasang
yang top: Kolo Toure
(Manchester City) dan
Yaya Toure
(Barcelona). Paraguay
punya Barreto
Bersaudara, Edgar dan
Diego.
Yang paling banyak
pemain sedara adalah
Honduras. Palacios
Bersaudara, Jerry,
Wilson dan Johny,
masuk tim, dan itu
menjadikan Honduras
negara pertama
yang tiga pemain
bersaudara kandung
dalam satu tim.
Dari ketiga nama itu
anak kedua yaitu
Wilson Palacios (25
tahun) adalah yang
paling tenar karena ia
bermain di klub Liga
Inggris Tottenham
Hotspur. Si sulung
Jerry Palacios (28
tahun) bermain di klub
China Hangzhou Nabel
Greentown. Adapun si
bungsu Johny Palacios
(23 tahun) baru punya
lima caps dan bermain
di klub lokal Olimpia.
Hubungan keluarga
"setengah-setengah"
ada untuk dua pemain
bernama Boateng.
Jerome Boateng
(Jerman) dan Kevin
Prince Boateng (Ghana)
adalah saudara satu
ayah dengan ibu yang
berbeda, dengan ayah
yang asli Ghana.
Jerome dan Kevin
Prince bisa berduel di
lapangan karena
Jerman dan Ghana
berada di Grup D, dan
dijadwalkan bertarung
pada 24 Juni. "Saya
tahu sejak awal ingin
bermain di Jerman.
Lagipula, saya tumbuh
dan besar di sini, di
tengah mental negara
Jerman," ucap Jerome.
Di tim Slovenia ada
juga saudara sepupu
Samir dan Jasmin
Handanovic.
Sementara di Kamerun
ada hubungan paman-
keponakan antara
Rigobert Song dan Alex
Song.
Hubungan keluar yang
lain adalah mertua-
menantu. Pelatih
Argentina Diego
Maradona adalah ayah
dari istri penyerang
Sergio Aguero. Begitu
pula di Belanda, pelatih
Bert van Marwijk
adalah mertua
gelandang senior Mark
van Bommel.
Minggu, 20 Juni 2010
Kado Buruk Dihari Ultah Capello
CAPE TOWN,
KOMPAS.com -
Pelatih Inggris Fabio
Capello mestinya bisa
merayakan ulang
tahunnya yang ke-64.
Apa mau dikata,
ultah itu justru
dilengkapi kado buruk
permainan timnya di
Piala Dunia.
Selama Inggris
menghadapi Aljazair
pada laga penyisihan
Grup C Piala Dunia
2010, Jumat
(18/6/2010), wajah
Capello selalu tampak
tegang. Kulit
wajahnya berlipat-
lipat, memperlihatkan
kekecewaannya
terhadap permainan
timnya.
Andai menang lawan
Aljazair, Inggris akan
berpeluang besar
lolos ke fase gugur.
Namun, permainan
buruk Steven Gerrard
dkk membuat
mereka harus puas
dengan skor akhir
0-0. Alih-laih
berpeluang lolos,
"The Three Lions" kini
harus berjuang keras
agar menang di laga
terakhir versus
Slovenia.
Slovenia kini
memimpin klasemen
Grup C dengan nilai 4.
Amerika Serikat
berada di urutan
kedua dengan nilai 2,
sama dengan Inggris.
Inggris kalah selisih
gol dari AS dan
karena itu Inggris
perlu menang minimal
selisih dua gol di laga
terakhir penyisihan
grup.
Korea Utara, Si Bisu Yang Menampar Indonesia
JOHANNESBURG,
KOMPAS.com —
Undian Piala Dunia
2010 Afrika Selatan
menentukan Korea
Utara harus berada
segrup dengan
Portugal, Pantai
Gading, dan Brasil.
Grup ini kemudian
disebut banyak orang
sebagai grup neraka.
Grup neraka biasanya
diisi oleh tim-tim
yang punya reputasi
juara atau pemain-
pemain bertalenta
dan ternama.
Mengacu ini, lantas di
mana keistimewaan
Korea Utara?
Jawabannya tak ada.
Satu-satunya yang
membuat Korut
istimewa adalah
karena mereka
misterius. Jangankan
mengorek sejarah
atau taktik, untuk
membuat para
pemain, pelatih, atau
staf kontingen
mereka bicara pada
konferensi pers pun
susahnya setengah
mati.
Ketertutupan itulah
yang membuat
mereka "dicurigai"
punya senjata
rahasia yang bakal
mengejutkan Ricardo
Kaka, Cristiano
Ronaldo, atau Didier
Drogba.
Ketika jadwal
penyisihan grup
menentukan Korut
harus bertemu Brasil
pada kesempatan
pertama, banyak
orang yang
memprediksi mereka
cuma akan menjadi
lumbung gol tim
"Samba".
Prediksi itu bukan
tanpa dasar. Melihat
statistik FIFA, Brasil
menduduki puncak
daftar peringkat tim
dunia. Korut sendiri
berada di posisi
ke-85. Setidaknya,
selisih keduanya lebih
lebar ketimbang jarak
antara Portugal
(ke-5) dan Pantai
Gading (ke-22).
Namun, statistik
tinggal statistik.
Fakta sesungguhnya,
yaitu kedua tim
bertanding, Selasa
(15/6/2010),
mengatakan bahwa
Korea cuma kalah
dengan selisih satu
gol dari Brasil. Namun,
skor saja tak cukup
menggambarkan
betapa kekuatan
Korea Utara tak bisa
dipandang sebelah
mata.
Pada pertandingan
itu, Brasil harus
bersusah payah
menyarangkan gol ke
gawang RI Myong
Guk. Setelah dipaksa
menutup babak
pertama dengan skor
imbang 0-0, Brasil
akhirnya memecah
kebuntuan berkat gol
Maicon pada menit
ke-55.
Moral Brasil semakin
melambung ketika
Elano menggandakan
keunggulan pada
menit ke-72. Namun,
keadaan ini tak
membuat Korut
menyerah.
Sambil tetap
menjaga disiplin
permainan, mereka
mampu
memperpendek jarak
menjadi 1-2 berkat
gol JI Yun Nam pada
menit ke-89. Setelah
itu, mereka masih
terus bermain
ngotot, sampai
dipaksa mengerem
larinya sendiri ketika
wasit Viktor Kassai
membunyikan peluit
tanda berakhirnya
laga.
Korea memang kalah
dan belum tentu
mendulang
kemenangan pada
dua laga sisa, di
mana Portugal dan
Pantai Gading sudah
menanti. Namun,
mencetak gol balasan
ke gawang raja Piala
Dunia, dalam keadaan
tertinggal dua gol dan
dengan sisa waktu
satu menit, adalah
prestasi.
Bagi Indonesia,
pencapaian Korea
Utara adalah
tamparan bolak-balik
seperti Asterix
menampar orang-
orang Romawi dalam
cerita karangan Rene
Goscinny dan Albert
Uderzo.
Korea, yang kesulitan
mengakses siaran
Piala Dunia dan
setengah mati
meminta restu
negara untuk mencari
(dan mendapatkan)
sponsor, mampu
mencapai Afrika
Selatan dan
mencetak gol ke
gawang Brasil,
setelah tertinggal
0-2, dan menjelang
masa injury time
pula.
Indonesia, yang
punya semuanya
(kecuali mungkin
semangat dan
kejujuran), mulai dari
sumber daya
manusia,
sponsorship,
suporter, hingga
akses informasi yang
jauh lebih luas
ketimbang Korut,
malah berharap
tampil di Piala Dunia
dengan memenangi
bidding tuan rumah.
Ironisnya, untuk
melewati jalan pintas
seperti itu pun
Indonesia juga gagal.
Korea Utara mungkin
tak akan meraih poin
lagi di dua
pertandingan sisa
dan gagal melaju ke
putaran kedua.
Namun, mereka
tetap berhak pulang
dengan kepala tegak
karena dengan segala
keterbatasannya,
mereka mampu
menjebol gawang
Julio Cesar, yang
Lionel Messi pun gagal
melakukannya.
Dan, sementara nanti
JI Yun Nam bercerita
kepada yunior-
yuniornya, anak-
cucunya, atau
tetangga-
tetangganya,
bagaimana ia
menjebol gawang
jawara Piala Dunia
dengan pertandingan
cuma menyisakan
satu menit,
Indonesia mungkin
masih cuma sibuk
membuat proposal
untuk mendatangkan
Manchester United
atau melobi FIFA
untuk menjadikan
Indonesia sebagai
tuan rumah Piala
Dunia.
Tentu, kita berharap
Indonesia akan lebih
baik dari itu.
BBC Matikan Suara Vuvuzela
LONDON – Protes
tentang kebisingan
Vuvuzela terus
berkembang. Hingga
hampir sepekan
bergulirnya Piala
Dunia 2010, suara
alat tiup khas Afrika
Selatan itu, selalu
terdengar di setiap
pertandingan.
Siaran BBC kini tengah
mempertimbangkan
untuk mematikan
suara vuvuzela dalam
tayangan Piala Dunia
2010. BBC dikabarkan
menerima banyak
protes dari
pelanggannya.
Debat tentang
penggunaan
terompet plastik
tersebut sudah
bergaung sejak awal
turnamen akbar
empat tahunan ini.
Kebanyakan dari
mereka keberatan
dengan suara bising
tersebut karena
mengganggu
komentar dan
kenikmatan
pertandingan.
BBC sedang
mempertimbangkan
alternatif agar
pelanggan mereka
bisa tetap menikmati
pertandingan.
Caranya, dengan
menghilangkan suara
atmosfer di styadion
dan menyisakan
suara komentator
saja.
Juru bicara wanita
BBC, Rabu
(16/6/2010),
mengatakan:
“ Penggunaan tombol
merah untuk
emmatikan suara di
stadion adalah opsi
yang sedang kami
pertimbangkan.
Keputusan ini akan
segera diambil.”
Namun, bisa
dibayangkan jika
menonton sepakbola
tanpa suara dari
stadion. Tentu akan
ada sedikit
perbedaan atmosfer
langsung bila tanpa
suara apapun. Opsi
lain adalah
mengajukan
keberatan kepada
FIFA agar melarang
vuvuzela di bawa ke
stadion.
Sabtu, 19 Juni 2010
Sepakbola Indah Sudah Lama Musnah
Oleh Budiarto
Shambazy
Belum lama ini Carlos
Alberto Torres (65),
kapten Brasil yang
merebut gelar
"tri" (juara dunia
untuk ketiga kalinya)
di Meksiko 1970,
bertemu Franz
Beckenbauer (64).
"Saya pernah melatih.
Beckenbauer sahabat
saya. Suatu kali di
rumahnya di Austria
dia bilang, 'Carlos,
kamu tahu apa
masalah pelatih? Kita
memaksa pemain
meniru kita'. Sejak itu
saya paham," kata
pencetak gol ketiga di
final 1970 itu.
Gol Carlos Alberto
karya seni awal yang
melahirkan "sepak
bola indah" (jogo
bonito atau joga
bonito). Saat
pertandingan nyaris
usai, Italia yang
menekan kehilangan
bola. Lewat serangan
balik bak musik
orkestra, si kulit
bundar mengalir indah
mampir ke tujuh
pemain.
"Selecao" (tim
nasional) menyajikan
encore yang indah
lewat Carlos Alberto
yang
menghunjamkan
tendangan mendatar
menipu kiper Enrico
Albertosi yang
terbengong.
Saat itulah lahir salah
satu fitur terpenting
sepak bola indah,
yakni peran bek yang
aktif mendukung
serangan jauh ke
depan lewat kedua
sayap meniru gaya
Carlos Alberto.
Pengaruh global bek
sayap ini amat besar
dan ditiru di mana-
mana, mulai dari Paul
Breitner dan Bertie
Vogts di tim nasional
Jerman Barat sampai
Simson Rumahpasal
atau Sutan Harhara di
tim nasional PSSI.
Sayangnya, musik
jogo bonito hanya
terdengar sayup-
sayup tahun 1970
dan 1982. Jika tahun
1970 dirigennya
Carlos Alberto, tahun
1982 dirigennya
Socrates yang juga
kapten Selecao.
Mereka kecewa
kepada Dunga,
pelatih saat ini. Carlos
Alberto malas ke
Afrika Selatan, lebih
suka menonton di
televisi. Jika Carlos
Alberto menuding
Dunga melecehkan
jogo bonito, Socrates
menuduh Dunga
"menghina warisan
budaya nasional".
Apa pun alasannya,
mereka mestinya
paham bahwa
menciptakan jogo
bonito bukan
membalik telapak
tangan. Tim butuh
lebih dari separuh
pemain berbakat.
Tahun 1970 ada
Carlos Alberto, Pele,
Gerson, Tostao,
Jairzinho, dan Rivelino.
Tahun 1982 ada
Socrates, Zico, Eder,
Toninho Cerezo,
Falcao, dan dua bek
sayap, Junior serta
Leandro.
Mereka berbakat
alam yang ditempa
pelatih yang
mengandalkan
metode tradisional.
Untuk agility,
misalnya, remaja
dibiasakan berlari
mengejar ayam atau
dipaksa tidur
bersama bola. Di
kota-kota pantai
mereka terlatih main
voli dengan kaki atau
sepak bola pantai di
atas pasir —alas
yang jauh lebih berat
dibandingkan dengan
rumput.
”Kebebasan
koreografis”
Syarat mutlak
lainnya, jogo bonito
butuh anak miskin
yang punya mimpi
dan harapan kolektif
mengikuti jejak Pele,
Zico, Romario,
Bebeto, Ronaldo, atau
Kaka. Kombinasi skill
individu dengan
kolektivitas ini yang
jadi landasan. Selain
itu, kata Carlos
Alberto, ada faktor
mistis yang sukar
terjawab. Para
ilmuwan
menyebutnya dengan
”kebebasan
koreografis” yang
menoleransi pemain
berimprovisasi,
seperti mondar-
mandir di lapangan
sesuka hati tanpa
perlu mendengar
instruksi pelatih.
Kebebasan ini yang
menciptakan fitur-
fitur sepak bola
indah. Selain winger
back, fitur penting
lainnya adalah
tendangan pisang,
gerakan tanpa bola
(lay-off), dan
memaksimalkan
ruang tak terlihat
(blind sides). Itu yang
membuat tim 1982
asuhan Tele Santana,
pelatih yang terlalu
santai, menyajikan
jogo bonito terbaik.
Ironisnya, justru
sikap "semau gue" itu
yang membuat
mereka dijungkalkan
Italia.
Santana kurang
disiplin seperti pelatih
1970, Mario Zagallo,
yang secara pas
meramu kebebasan
koreografis dengan
disiplin militer. Itu
sebabnya, tim 1970
jauh lebih
metodologis dan
efisien meski tetap
indah. Sebaliknya, tim
1982 jauh lebih indah
walau kurang efisien.
Puncak keindahan
jogo bonito sampai
kini terjadi ketika
Socrates mencetak
gol ke gawang Italia
yang menang 2-3.
Zico mengontrol bola
membelakangi lawan
menerima throw-in
dari Socrates di
tengah. Ia balik badan
menggiring bola
melewati beberapa
lawan ke kotak
penalti, serta-merta
menyeret perhatian
lini belakang Italia
yang mengeroyok dia
di depan kotak
penalti. Tanpa
dinyana, Zico tanpa
menoleh mengoper
bola jauh ke sayap
kanan yang
melompong dan di
situ sudah menunggu
Socrates yang lari
kencang. Dari sudut
sempit dan tak
terlihat, Socrates
menaklukkan kiper
Dino Zoff dengan
tendangan perlahan.
Jogo bonito punah
tahun 1982. Sempat
ada masa
transisional ketika
tim 1978 diasuh
Claudio Cautinho,
yang mewarisi
sebagian pemain
Zagallo tahun
1970-1974 seperti
Rivelino dan Jairzinho.
Tahun 1978 itu Brasil
dianggap "juara tanpa
mahkota" karena
tuan rumah
Argentina main mata
dengan Peru di
semifinal
menyingkirkan Brasil
yang kalah selisih gol.
Jogo bonito memang
tak pernah
dilestarikan dan
buktinya Brasil bisa
jadi juara tahun 1994
dan 2006. Penyerang
berbakat banyak,
seperti Bebeto,
Romario, atau
Ronaldo. Play maker?
Jumlah dan
kualitasnya terbatas,
seperti Dunga,
Ronaldinho, atau
Kaka. Tim 2010 ini
pasti tak indah,
miskin play maker,
walau jadi salah satu
favorit kuat menjadi
juara keenam kalinya.
Dan, Brasil masih
beruntung karena
tim-tim favorit
kebetulan juga
mengalami defisit
play maker.
Meski tetap manis
dikenang, jogo bonito
bak harta karun yang
dibuang. Denmark
1980-an bangga
menyebut diri
sebagai "Brasil Eropa",
negara-negara Teluk
Persia berlomba
minta dijuluki "Brasil
Asia", PSSI pernah
berguru ke Brasil
tahun 1970-an dan
mendatangkan
pelatih Joao
Barbatana. Mungkin
orang yang paling tak
bangga cuma Dunga,
yang menyia-nyiakan
dua pemain amat
berbakat: Neymar
dan Ganso. Tiap ada
Piala Dunia, sebagian
orang Brasil pasti
menggerutu, "para
onde vais"? Brasil,
mau ke mana?
(Kompas Cetak)
Tim-tim "Underdog" Bersinar di Afsel
JOHANNESBURG,
Kompas.com -
Kejutan demi kejutan
terus terjadi di Piala
Dunia 2010 ini. Para
tim underdog, di luar
dugaan
memancarkan
sinarnya yang
menyilaukan tim-tim
unggulan, karena bisa
mempermalukan
negara-negara kuat
yang memiliki tradisi
bagus di arena Piala
Dunia. Terakhir,
Serbia, Slovenia, dan
Aljazair,
melakukannya pada
Jumat (18/6/10).
Serbia, yang pada
laga perdana kalah
0-1 dari Ghana,
bermain kesetanan
ketika melawan
Jerman, dalam
lanjutan penyisihan
Grup D. Di luar
dugaan, "The White
Eagles"
menghancurkan "Der
Panzer" dengan skor
1-0 lewat gol Milan
Jovanovic. Mereka
memanfaatkan
keunggulan jumlah
pemain karena
striker Miroslav Klose
diusir, menyusul
kartu kuning kedua
yang diterimanya
dalam laga tersebut.
Slovenia, yang
tergabung di Grup C,
juga membelalakan
mata para pecinta
sepak bola dunia.
Negara terkecil di
event ini, karena
hanya memiliki
jumlah penduduk 2
juta jiwa, tampil
sangat impresif dan
nyaris
mempermalukan
Amerika Serikat.
Bagaimana tidak,
mereka sempat
unggul 2-0 di paruh
pertama, sebelum
"Paman Sam"
membalasnya di
babak kedua, untuk
memaksa hasil akhir
menjadi imbang 2-2.
Masih dari Grup C,
Aljazair pun tampil
sangat mengesankan
ketika melawan tim
favorit juara, Inggris.
"The Desert Fox"
yang sama sekali
tidak diperhitungkan,
justru menghadirkan
kesulitan yang besar
bagi "The Three
Lions", sehingga skor
akhir laga 2x45 menit
itu berakhir imbang
tanpa gol.
Ini membuat
persaingan di Grup C
menjadi sangat
sengit, karena baik
Slovenia, yang kini
memimpin klasemen
sementara, AS
(peringkat dua),
Inggris (peringkat 3)
dan Aljazair, sang
juru kunci, masih
memiliki peluang yang
sama untuk
melangkah ke babak
16 besar. Laga
pamungkas, menjadi
penentu, ketika
Slovenia bertemu
Inggris dan AS
ditantang Aljazair.
Peluang terbesar ada
di tangan Slovenia
dan AS, karena
dengan hasil imbang
saja mereka meraih
tiket ke fase knock-
out.
Sebelum kejutan
pada laga hari Jumat
ini, sudah ada hasil
yang membuat
semua orang heran
melihat performa
para tim underdog.
Lihat saja bagaimana
Korea Selatan
membantai Yunani,
juara Eropa 2004,
dengan skor 2-0.
Kemudian, Swiss
mempermalukan
juara Eropa 2008,
Spanyol, dengan
kemenangan 1-0.
Belum lagi Korea
Utara, yang sempat
membuat Brasil
frustrasi, meskipun
mereka akhirnya
kalah 1-2.
Di Grup A, Perancis
sudah hampir pasti
tersingkir karena
menelan kekalahan
0-2 dari Meksiko pada
laga kedua, Kamis
(17/6/10). "Les
Bleus", juara Piala
Dunia 1998 dan juara
Eropa 2000, juga
hanya bermain
imbang tanpa gol
pada laga perdana
melawan Uruguay.
Meskipun tidak terlalu
mengejutkan karena
performa "Ayam
Jantan" memang
kurang meyakinkan,
tetapi kegagalan ini
menjadi salah satu
bukti tim raksasa
sudah menjadi
korban tim underdog.
Memang, sepanjang
sejarah Piala Dunia,
belum ada tim Eropa
yang menjadi juara
ketika turnamen
empat tahunan ini
diselenggarakan di
luar benuanya.
Sebaliknya, tim dari
benua Amerika sudah
mematahkan mitos
itu ketika Brasil
menjadi juara di
Swedia pada tahun
1958--sebelum dan
sesudah itu, tim dari
benua Amerika pun
tidak pernah menjadi
juara di Eropa. Lalu,
Brasil juga kembali
menegaskan
predikatnya sebagai
raja sepak bola
dengan menjuarai
Piala Dunia Korea
Selatan-Jepang 2002.
Nah, di Afrika Selatan
ini pun, tampaknya
tim-tim Eropa mulai
menemui kesulitan.
Kekalahan Jerman,
yang sudah tiga kali
jadi juara dunia, dan
Spanyol, serta hasil
imbang Italia (juara
empat kali) ketika
melawan Paraguay
pada laga perdana
penyisihan Grup F,
plus kemungkinan
besar tersingkirnya
Perancis, semakin
membuktikan bahwa
tim-tim benua biru ini
tidak memiliki tradisi
juara di luar (benua
Eropa).
Setali tiga uang, tim
dari Afrika pun tidak
terlalu mencolok.
Padahal, mereka
memiliki tujuh wakil
dalam gegap gempita
pesta di benuanya ini.
Hanya Ghana yang
menyelamatkan
muka Afrika, berkat
kemenangan 1-0
atas Serbia, pada
laga perdana
penyisihan Grup D.
Di sisi lain, dua
raksasa Amerika
Latin, Argentina dan
Brasil, masih
sempurna. Argentina,
juara dunia dua kali,
bahkan sudah meraih
tiket perdelapan final
usai berpesta gol 4-1
ke gawang Korea
Selatan, pada partai
kedua penyisihan
Grup B, Kamis
(17/6/10). Tiga poin
dari Korsel itu
melengkapi
kemenangan 1-0
atas Nigeria, pada
partai perdana
penyisihan grup.
Sedangkan Brasil,
juara dunia lima kali,
baru akan
memainkan partai
kedua penyisihan
Grup G melawan
Pantai Gading, 21 Juni
mendatang.
Melihat performa
"Albiceleste" dan
"Selecao", tampaknya
mereka tetap
menjadi ancaman di
Piala Dunia ke-19 ini
dan masih menjadi
kandidat terkuat
untuk menjadi juara.
Meskipun demikian,
penampilan tim-tim
underdog juga harus
diperhitungkan,
karena jika terus
berlanjut maka bukan
mustahil kejutan
terjadi lagi. Lantas,
mungkin saja muncul
juara baru di tanah
Afrika? Kita tunggu
saja.
Langganan:
Komentar (Atom)