Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Piala Dunia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Piala Dunia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Desember 2010

Jadwal Arsenal di Musim 2010/2011

Hari ini, FA mengeluarkan daftar pertandingan untuk Liga Premier Inggris musim 2010/2011. Klub Arsenal diawal pertandingan sudah harus berhadapan dengan mantan penghuni BIG FOUR, Liverpool yang musim lalu terseok - seok di Liga. Dan pada partai Boxing Day, Arsenal juga akan berhadapan dengan juara musim lalu Chelsea. Dari hasil analisa id- arsenal.com, Bulan November dan Desember akan menjadi bulan yang berat. November didalam daftar Arsenal akan bermain lima kali. Apabila ditambah dengan partai Liga Champion dan juga Carling Cup, total pertandingan akan menjadi 9 kali main dalam satu bulan. Demikian juga untuk bulan Desember, dengan lima pertandingan Liga Premier dan salah satunya akan menghadapi lawan berat dari Manchester United di Old Trafford. Berikut adalah jadwal lengkap pertandingan musim 2010/2011 untuk Arsenal yang dikutip dari premierleague.com: Keterangan: (A) = Away / Tandang; (H) = Home / Kandang. August 14 Liverpool (A) 21 Blackpool (H) 28 Blackburn (A) September 11 Bolton (H) 18 Sunderland (A) 25 West Brom (H) October 2 Chelsea (A) 16 Birmingham (H) 23 Man City (A) 30 West Ham (H) November 6 Newcastle (H) 9 Wolverhampton (A) 13 Everton (A) 20 Tottenham (H) 27 Aston Villa (A) December 4 Fulham (H) 11 Man Utd (A) 18 Stoke (H) 26 Chelsea (H) 28 Wigan (A) January 1 Birmingham (A) 4 Man City (H) 15 West Ham (A) 22 Wigan (H) February 1 Everton (H) 5 Newcastle (A) 12 Wolverhampton (H) 26 Tottenham (A) March 5 Sunderland (H) 19 West Brom (A) April 2 Blackburn (H) 9 Blackpool (A) 16 Liverpool (H) 23 Bolton (A) 30 Man Utd (H) May 7 Stoke (A) 14 Aston Villa (H) 22 Fulham (A)

Senin, 19 Juli 2010

Daftar Top Skorer Piala Dunia

detikcom - Jakarta, Lima pemain menjadi pemain tersubur di Piala Dunia 2010, tapi Thomas Mueller yang mendapatkan "Sepatu Emas". Berikut ini data- data seputar para top skorer Piala Dunia: Piala Dunia Pemain Asal Jumlah 1930 Guillermo Stabille Argentina 8 gol 1934 Oldrich Nejedly Cekoslovakia 5 gol 1938 Leonidas Brasil 7 gol 1950 Ademir Brasil 9 gol 1954 Sandor Kocsis Hongaria 11 gol 1958 Just Fontaine Prancis 13 gol 1962 Garrincha Brasil 4 gol Vava Brasil 4 gol Leonel Sanchez Cile 4 gol Florian Albert Hongaria 4 gol Valentin Ivanov Rusia 4 gol Drazan Jerkovic Kroasia 4 gol 1966 Eusebio Portugal 9 gol 1970 Gerd Muller Jerman 10 gol 1974 Grzegorz Lato Polandia 7 gol 1978 Mario Kempes Argentina 6 gol 1982 Paolo Rossi Italia 6 gol 1986 Gary Lineker Inggris 6 gol 1990 Salvatore Schillaci Italia 6 gol 1994 Hristo Stoichkov Bulgaria 6 gol Oleg Salenko Rusia 6 gol 1998 Davor Suker Kroasia 6 gol 2002 Ronaldo Brasil 8 gol 2006 Miroslav Klose Jerman 5 gol 2010 Thomas Mueller Jerman 5 gol David Villa Spanyol 5 gol Wesley Sneijder Belanda 5 gol Diego Forlan Uruguay 5 gol Catatan: - FIFS awalnya mencatat Oldrich Nejedly (Cekoslowakia) dengan empat gol, yang menjadikannya top skorer bersama Angelo Schiavio (Italia) dan Edmund Conen (Jerman). Namun pada November 2006 FIFA mengubahnya menjadi lima gol, dan itu membuat Nejedly sebagai top skorer turnamen 1934. - FIFA sebelumnya mencatat Leondias da Silva dengan delapan gol, sebagai top skorer Piala Dunia 1938. Pada November 2006 jumlah itu direvisi menjadi tujuh, karena ia diputuskan hanya mencetak satu gol saat Brasil bertanding melawan Cekoslowakia di babak perempatfinal -- bukan dua seperti di catatan sebelumnya. Tapi ia tetap menjadi top skorer. - Ademir Menezes "ditambah" koleksi golnya menjadi sembilan di Piala Dunia 1950. Semula ia tercatat hanya mencetak tujuh gol. Dua tambahan didapat dari revisi catatan gol Brasil vs Spanyol. Satu gol bunuh diri bek Spanyol Parra, dan satu gol Jair, belakangan dinyatakan FIFA milik Ademir. - Oleg Salenko adalah satu-satunya pemain yang menjadi top skorer yang timnya tersingkir di babak awal, di Piala Dunia 1994. Uniknya lagi, hanya enam gol itu sumbangan gol Salenko untuk negaranya (Rusia), dari delapan caps yang ia miliki. - Di pertandingan semifinal Piala Dunia 2002 melawan Turki, penyerang Brasil Ronaldo memprotes gol yang semula dicatat FIFA sebagai bunuh diri pemain lawan. FIFA mengabulkan protes tersebut dan Ronaldo berhak mengantongi gol tersebut. - Thomas Mueller, Wesley Sneijder, David Villa dan Diego Forlan sama-sama mencetak lima gol di Piala Dunia 2010. Mereka adalah top skorer, tapi Mueller yang berhak menerima "Sepatu Emas" karena memiliki jumlah assist tertinggi dibanding yang lain. Ia membuat tiga assist, lainnya cuma satu. - Villa berhasil menerima "Sepatu Perak" karena durasi bermainnya lebih pendek daripada Sneijder. Adapun Sneijder memenangi "Sepatu Perunggu "karena bermain tidak lebih lama daripada Forlan. Hebatnya, Forlan adalah pemain yang memenangi "Bola Emas" alias Golden Ball, sebagai pemain terbaik turnamen.

Sabtu, 17 Juli 2010

Kemana Rp 2,25 Miliar Itu?

KOMPAS.com - Piala Dunia 2010 berakhir dengan digelarnya laga final Belanda versus Spanyol di Soccer City, Johannesburg, Senin (12/7) dini hari WIB. Pertanyaannya: apa yang bisa dipetik dari perhelatan akbar sepak bola sebulan penuh tersebut, terutama bagi sepak bola Tanah Air? Itu pertanyaan bagi seluruh pemangku kepentingan sepak bola nasional, terutama bagi PSSI. Sebulan penuh sudah, publik sepak bola di Tanah Air mendapat suguhan dan tontonan sepak bola level tinggi oleh 32 tim Piala Dunia 2010. Ada hal negatif yang tidak perlu dicontoh, tetapi banyak hal positif yang patut diteladani. Sempat diragukan di awal, Afrika Selatan secara keseluruhan menjawab secara konkret dengan sukses menggelar ajang olahraga paling digemari itu. Suara-suara pesimistis yang dulu terdengar kini berubah menjadi pujian. ”Saya melihat sendiri, turnamen ini diselenggarakan luar biasa, atmosfernya juga hebat. Setelah datang sendiri, harus saya katakan, Afrika Selatan pasti bangga (dengan hal ini), ” kata Angela Merkel, Kanselir Jerman, pada situs FIFA. Perempuan penggila sepak bola itu hadir, menonton langsung, dan menari kegirangan di tribune saat Jerman menggilas Argentina 4-0 di perempat final. Sabtu (10/7), Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma berpidato yang disiarkan stasiun- stasiun televisi lokal bahwa ”Kesuksesan Piala Dunia 2010 ini kemenangan bagi Afrika ”. Tonik bagi Blatter Kesuksesan penyelenggaraan Piala Dunia 2010 pasti mendongkrak posisi Presiden FIFA Sepp Blatter, yang dari awal mengotot menggelar Piala Dunia di Afrika meski ditentang sana-sini. Masa jabatan Blatter selaku Presiden FIFA bakal berakhir 2011, dan ia secara terbuka menyatakan akan mencalonkan diri lagi untuk empat tahun berikutnya. Hal itu ditegaskan kembali pada Kongres FIFA di Sandton, Johannesburg, menjelang Piala Dunia, Juni lalu. Seperti halnya presiden atau ketua asosiasi-asosiasi sepak bola seluruh dunia dan presiden konfederasi, masa jabatan Presiden FIFA empat tahun dan setelah habis masa jabatan itu, ia bisa dipilih berulang-ulang tanpa batas waktu. Waktu itu pernyataan terbuka Blatter disambut tepuk tangan meriah 208 utusan asosiasi anggota FIFA. Namanya juga punya maksud, setelah mengumumkan keuntungan finansial badan sepak bola dunia tahun lalu sebesar lebih dari satu miliar dollar AS (sekitar Rp 9 triliun), Blatter pun membagi- bagikan bonus 250.000 dollar AS (sekitar Rp 2,25 miliar) bagi setiap asosiasi anggota FIFA dan 50 juta dollar AS bagi enam konfederasi di bawah FIFA. PSSI juga hadir dalam kongres itu, diwakili Ketua Umum Nurdin Halid dan pengurus lainnya. Seperti para wakil asosiasi lainnya, PSSI juga kecipratan bonus Rp 2,25 miliar. Namun, perlu dicatat, kucuran uang FIFA itu bukanlah bonus bagi pengurus PSSI, melainkan dana yang dimaksudkan FIFA untuk pengembangan sepak bola. Pelesir pengurus PSSI Senin (5/7), kurang dari sebulan setelah Blatter mengumumkan pencairan bonus Rp 2,25 miliar untuk para asosiasi, puluhan pengurus teras PSSI pusat dan daerah terbang dan pelesir ke Afrika Selatan. Seperti dikutip Kompas.com, mereka berjumlah 60 orang. Mereka dijadwalkan menyaksikan laga semifinal dan final Piala Dunia 2010. Setiap orang diperkirakan menghabiskan biaya sekitar Rp 75 juta, meliputi uang saku, penginapan, tiket, dan akomodasi. Dari mana uang untuk membiayai keberangkatan mereka ke Afrika Selatan? Seperti biasa, tidak ada keterangan yang jelas. Sebagian dari mereka terlihat di Cape Town saat semifinal Belanda versus Uruguay berlangsung. Saat disinggung puluhan pengurus PSSI pusat dan daerah yang pelesir ke Afrika Selatan itu, anggota Komite Eksekutif PSSI, Bernhard Limbong, dikutip kantor berita Antara, Selasa (6/7), menyebutkan bahwa hal itu sedikit hura- hura saja, tetapi itu juga hak mereka untuk ke sana. ”Saya memang tidak ikut ke Afrika Selatan, ” kata Limbong. Gaya hidup pengurus PSSI itu sangat ironis jika melihat kondisi persepakbolaan Tanah Air akhir-akhir ini. Bukan hanya paceklik prestasi di ajang internasional, pengelolaan keuangan PSSI juga kacau dan tidak jelas. Pelesir para pengurus PSSI itu memprihatinkan jika mengingat bahwa gaji tim nasional futsal yang mengharumkan bangsa Indonesia sebagai juara ASEAN belum dibayar. Inikah pelajaran dari Piala Dunia 2010 untuk sepak bola Indonesia? Menyedihkan! (MH SAMSUL HADI, dari Johannesburg, Afrika Selatan)

Kamis, 15 Juli 2010

Daftar Kiper-Kiper Terbaik Piala Dunia

detikcom - Jakarta, Kapten Spanyol Iker Casillas terpilih sebagai penjaga gawang terbaik di Piala Dunia 2010. Siapa saja para kiper yang dinilai paling menawan di setiap edisi Piala Dunia, berikut ini daftarnya: 1930 Enrique Ballesteros (Uruguay) 1934 Ricardo Zamora (Spanyol) 1938 Frantisek Planicka (Cekoslowakia) 1950 Roque Maspoli (Uruguay) 1954 Gyula Grosics (Hongaria) 1958 Harry Gregg (Irlandia Butara) 1962 Viliam Schrojf (Cekoslowakia) 1966 Gordon Banks (Inggris) 1970 Ladislao Mazurkiewicz (Cekoslowakia) 1974 Jan Tomaszewski (Polandia) 1978 Ubaldo Fillol (Argentina) 1982 Dino Zoff (Italia) 1986 Harald Schumacher (Jerman) 1990 Sergio Goycochea (Argentina) 1994 Michel Preud'homme (Belgia) 1998 Fabien Barthez (Prancis) 2002 Oliver Kahn (Jerman) 2006 Gianluigi Buffon (Italia) 2010 Iker Casillas (Spanyol) Catatan: - Predikat kiper terbaik baru resmi diadakan di Piala Dunia 1994, dengan titel Lev Yashin Award. Sebelumnya, kiper-kiper terbaik tersebut diambil dari daftar tim All Star Piala Dunia. - Mulai Piala Dunia 2010 titel Lev Yashin Award diganti menjadi Golden Glove Award alias "Sarung Tangan Emas".

Selasa, 13 Juli 2010

Pesta Dan Tangis Akhiri Piala Dunia

JOHANNESBURG, KOMPAS.com — Selalu saja ada pesta luar biasa di atas tangis. Banyak tangis pula di sela-sela pesta mengakhiri Piala Dunia. Begitu juga dengan Piala Dunia 2010. Kemenangan Spanyol 1-0 atas Belanda di final Piala Dunia 2010 langsung disambut pesta di mana-mana oleh warga Spanyol dan pendukungnya. Namun, hasil itu menimbulkan tangis dan luka buat Belanda. Bahkan, luka Belanda terasa begitu menganga. Bertahun- tahun berusaha meraih Piala Dunia, bahkan sudah masuk ke final, tetapi selalu gagal. Belanda ke final Piala Dunia tahun 1974, 1978, dan terakhir 2010. Itu pula yang tampaknya membuat tangis Belanda lebih menyesakkan. Air mata Wesley Sneijder, Arjen Robben, Robin van Persie dkk merupakan cerminan kekecewaan yang dalam. Dan, dalam sekejap, puluhan, ratusan, bahkan ribuan pendukung meledak dalam tangis. Itu terlihat di FIFA Fan Fest ataupun di stadion. Di sisi lain, sorak- sorai kegembiraan seolah ingin menenggelamkan segalanya. Suka dan tawa Iker Casillas dkk langsung disambut pesta di mana-mana. Bahkan, menurut beberapa suporter Spanyol, mereka siap berpesta sebulan penuh. Ada pula yang kaul akan telanjang bulat di depan umum. Ada pula yang akan memotong rambut, ada pula yang akan menghabiskan sebulan penuh bersama pacarnya. "Oh, Bung. Akan ada pesta panjang dan bisa sebulan selalu ada di negara kami jika Spanyol juara Piala Dunia," kata Aime, asal Madrid, sebelum partai final. Ana dan Elena, dua wanita asal Barcelona, siap larut dalam berbagai pesta di Afsel dan negaranya. Bahkan, mereka juga menyiapkan pesta istimewa dan khusus bersama kekasihnya. Ada suka, ada duka. Ada tawa, ada luka. Ada keriangan, ada pula ratapan. Begitulah sejarah akhir kompetisi Piala Dunia. Sebab, ini bukan sekadar bola, bukan sekadar pertandingan semata. Ada banyak makna yang terkandung di dalamnya.

Minggu, 04 Juli 2010

Sepakbola,Biko,dan anti-Apartheid

Laporan langsung wartawan Kompas.com, Hery Prasetyo, dari Afrika Selatan. PRETORIA, KOMPAS.com - Sepak bola sebenarnya cukup mengakar di masyarakat kulit hm dan itam di Afrika Selatan. Bahkan, olahraga ini amat merakyat, karena mudah dan bisa dimainkan di mana saja. Di era Apartheid, sepak bola malah menjadi katarsis bagi rakya yang tertindas. Mereka sering memainkan sepak bola di mana pun, termasuk di lahan- lahan sempit. Jika tak ada bola, rumput digulung pun bisa dimainkan. Itu yang terjadi di masa Apartheid. Sebab, fasilitas umum yang penting dikuasai kulit putih. Sedangkan kulit hitam dan berwarna harus hidup di areal berbeda yang biasanya kumuh, gersang, dan terpojok. Masyarakat kulit hitam dan berwarna terus mendapat tekanan. Mereka tak diberi ruang sedikit pun untuk menyalurkan pendapat, berekspresi, apalagi memprotes politik Apartheid yang jelas- jelas menindas kaum lain sejak ratusan tahun dan bahkan dinyatakan secara resmi pada 1948. Meski begitu, di antara kesempitan berpendapat dan berekspresi, ada sedikit ruang yang bisa dimanfaatkan masyarakat kulit hitam untuk saling berdiskusi, menyalurkan pendapat, dan memikirkan masa depan. Ruang itu salah satunya bernama sepak bola. Ya, pemerintah berkuasa kulit putih waktu itu tak terlalu curiga jika warga kulit hitam bermain sepak bola. Ini dimanfaatkan betul oleh orang kulit putih. Salah satu tokoh anti-Apartheid yang memanfaatkannya adalah Steven Biko atau sering dipanggil Steve Biko. Dia adalah aktivis anti-Apartheid yang terus berjuang menghapuskan politik pembecaan rasial itu di bumi Afsel. Seperti halnya Nelson Mandela, Biko juga konsisten terhadap perjuangannya. Dia banyak menulis artikel yang terus mengkritik Apartheid. Dia juga terus berusaha membangkitkan warga kulit hitam agar lebih kuat. Ada satu kalimat darinya yang sangat populer di Afsel, "Hitam itu indah." Namun, pada 1973, Biko dibatasi gerakannya. Dia tak boleh lagi berbicara dengan lebih dari satu orang. Dia tak boleh berbicara di depan massa. Biko tak kurang akal. Dia pindah ke Eastern Cape, tempat kelahirannya. Di sini, pengawasan tetap ketat, tapi masih sedikit leluasa. Dia banyak memanfaatkan sepak bola untuk menyampaikan pesan-pesannya. Sembari bermain sepak bola, dia sering berbicara kepada pemain lain agar pesaannya disebarkan. Ini salah satu cara dia mengatasi tekanan untuk membangkitkan warga kulit hitam. Dalam tekanan seperti itu, dia masih bisa membentuk organisasi-organisasi yang bertujuan menyadarkan rakyat kulit hitam akan kesamaan, kemerdekaan, dan kebebasan. Polisi Afsel akhirnya menangkap Biko pada 21 Agustus 1977. Dia disiksa di penjara. Pada 11 September 1977, polisi memasukkannya ke mobil Land Rover untuk dibawa dari Cape Town ke Pretoria. Karena besarnya siksaan, sesampainya di Pretoria Biko meninggal dunia dengan kepala penuh luka siksaan. Namun, hingga kini para pollisi penyiksanya tak pernah ditahan. Biko telah gugur. Mungkin dia tak pernah bisa merasakan kebebasan kulit hitam setelah Apartheid dihabpuskan pada 1994. Namun, namanya akan selalu dikenang. Bahkan, dia disebut martir anti- Apartheid. Rakyat Afsel kini menghormatinya. Sebab, Biko ikut meletakkan dasar- dasar pejuangan menghilangkan Apartheid dari bumi Afsel. Dan, salah satu jalan perjuangannya adalah lewat sepak bola. Ah, seandainya masih hidup, dia akan sangat bahagia karena negerinya bisa menjadi tuan rumah Piala Dunioa 2010. Bahkan, dia pasti akan mendapat tempat dan waktu untuk berpidato di acara pembukaan, seperti halnya Desmond Tutu, Jacob Zuma, dan Nelson Mandela (sayang Mandela akhirnya urung). Namun, jelas dia tak akan bicara soal memerangi Apartheid, melainkan kejayaan dan kebanggan Afsel secara keseluruhan, tanpa membedakan warna kulit. "Different tribe, one pride, one support, one win," demikian slogan Afsel yang artinya, berbeda suku tapi satu kebanggaan, satu dukungan, dan satu kemenangan. (Bersambung)

Senin, 28 Juni 2010

Apartheid, Kepedihannya Masih Terasa

JOHANNESBURG, KOMPAS.com — Berada di Afrika Selatan (Afsel) rasanya tak afdal jika tak mengenang kembali apartheid di negeri itu. Politik pembedaan berdasarkan ras tersebut memang sebuah kejahatan kemanusiaan amat menakutkan. Kulit putih yang berkuasa menempatkan diri sebagai warga paling istimewa, sedangkan warga kulit berwarna (coloured) dan kulit hitam dianggap warga pinggiran. Penguasa bahkan selalu menekan, menyiksa, dan membantai warga kulit hitam demi mempertahankan kekuasaan dan keistimewaannya sebagai warga spesial. Apartheid sebenarnya sudah berlangsung lama di Afsel. Namun, pemerintahan National Party menetapkannya secara resmi dan diperkuat dengan undang-undang pada 1948. Apartheid baru berakhir pada 1994. Artinya, politik membedakan warga berdasarkan ras itu baru berakhir dalam 16 tahun. Sangatlah muda. Sementara apartheid sudah berlangsung ratusan tahun meski secara resmi baru pada 1948. Digelarnya Piala Dunia 2010 di Afsel seolah kembali mengingatkan warga dunia kepada kekejaman apartheid. Wajar jika suporter dari luar negeri banyak yang menyempatkan diri mengunjungi Museum Apartheid di Johannesburg. Senin (14/6/2010), Kompas.com berkesempatan mengunjungi museum bersejarah itu. Begitu masuk, kepedihan akibat apartheid masih terasa. Bahkan, hati seolah teriris-iris mengenang luka menganga, juga derita yang dialami warga non-kulit putih (terutama kulit hitam) selama kekuasaan apartheid yang berakhir 1994 itu. Museum itu menjadi rekaman kekejaman apartheid, juga perjuangan warga tertindas menegakkan keadilan. Pengelola memberi dua jenis tiket: jalan putih atau hitam. Ini langsung mengingatkan kembali masa-masa apartheid yang memisahkan warga kulit putih dan hitam, baik dalam perlakuan, kekuatan hukum, fasilitas, wilayah, maupun hak-haknya. Apalagi, begitu masuk ruang museum langsung disuguhi beberapa kartu identitas korban tewas akibat kekejaman apartheid. Setelah itu, kita bisa membaca kembali beberapa pernyataan tokoh kulit putih maupun kulit hitam, dari Steven Biko, Desmond Tutu, sampai sang tokoh besar anti-apartheid Nelson Mandela. Tentu, Mandela mendapat porsi yang besar di museum itu. Selain ada beberapa catatan pidato Mandela, Biko, dan Tutu, ada pula ruang penjara tiruan yang dipakai pemerintah apartheid untuk mengurung warga kulit hitam yang dianggap membangkang. Bahkan, ada ruangan penuh tali gantungan, menggambarkan betapa banyak warga kulit hitam yang pernah digantung oleh pemerintah apartheid. Mobil Mandela juga dipajang di sana, selain beberapa buku dan catatan masa lalu. Selain itu, juga ada beberapa catatan tentang apartheid yang bisa menjadi referensi maupun kenangan pahit, sekaligus pelajaran kemanusiaan. Museum juga menyediakan dua ruang teater. Yang satu menjelaskan sejarah Afrika Selatan dan munculnya apartheid. Satunya lagi menyajikan film tentang kekejaman pemerintah apartheid selama berkuasa. Rekaman dokumenter itu masih begitu jelas. Polisi kulit putih tak segan-segan menyerbu perkampungan kulit hitam, kemudian menyeret pemuda dan anak-anak. Mereka biasanya akan diinterogasi dan disiksa. Ada pula rekaman gerakan anti-apartheid yang dibalas oleh kekejaman tentara dan polisi kulit putih. Menculik, menyiksa, membunuh, dan menahan para tokohnya tergambar jelas dalam rekaman film itu. Bahkan, anak-anak pun tak lepas dari penangkapan untuk disiksa, diintimidasi, dan dicuci otaknya. "Orang kulit putih adalah penguasa Afrika Selatan. Dan, secara alamiah dari asalnya, dari lahirnya, juga dari kekuatannya, orang kulit putih akan tetap berkuasa di Afrika Selatan sampai akhir zaman," demikian pernyataan arogan dewan perwakilan rakyat semasa pemerintahan apartheid pada 15 Maret 1950, seperti terpampang dalam catatan di museum itu. Arogansi itu ditentang oleh para tokoh kulit hitam, termasuk Nelson Mandela. Tokoh yang rela dihukum selama 27 tahun itu pernah mengatakan, "Kebebasan bukan semata-mata melepaskan rantai dari tangan seseorang. Kebebasan adalah hidup dengan cara yang saling menghormati dan saling membantu kebebasan orang lain." Arogansi kekuasaan kulit putih yang didasarkan pada sentiman ras bertarung dengan semangat kebebasan hakiki kulit hitam. Sebuah pertarungan sengit yang meninggalkan catatan hitam dan kelam, juga mengiris hati hingga mengaduk lubuk paling dalam. Sebab, pada akhirnya arogansi itu menampakkan kekejamannya. Namun, di sisi lain ada haru-biru yang menggumpal di kalbu. Sebab, perjuangan para tertindas membangun persamaan, kebebasan, dan kemerdekaan begitu luar biasa. Apalagi, perjuangan yang dilalui dengan derita dan luka itu akhirnya menemukan keberhasilannya. Sudah 16 tahun apartheid dibubarkan. Afsel kini menjadi negara demokrasi yang menganut persamaan ras, kebebasan, kemerdekaan, tanggung jawab, dan kesediaan melakukan rekonsiliasi. Sebuah tujuan mulia yang akan menuntun Afsel menuju masa depan lebih baik. Namun, luka apartheid itu masih terasa. Masa 16 tahun terlalu singkat untuk menghilangkan segala nyeri dan ngeri, duka dan luka, pilu dan kelu, tangis dan teriris, kematian dan kepedihan, darah dan amarah. (Bersambung)

Minggu, 27 Juni 2010

Maradona Maafkan Platini, Tidak Untuk Pele

TEMPO Interaktif , Johannesburg - Diego Maradona meminta maaf di hadapan publik kepada Presiden UEFA, Michel Platini, atas komentar yang pernah dilontarkannya terhadap legenda Prancis itu beberapa hari sebelumnya. Tapi, pelatih timnas Argentina itu menegaskan tak mau melakukan hal serupa kepada Pele yang juga jadi sasaran kecamannya. “Saya ingin menyempaikan permohonan maaf saya lewat kalian (para reporter) kepada Mr Platini … Tapi, tidak kepada Pele,” ujar Maradona dalam jumpa pers seusai kemenangan 4-1 Argentina atas Korea Selatan, Kamis (17/6). “Beberapa hari yang lalu, saya berkomentar tentang Mr Platini. Mr Platini kemudian mengirimkan surat kepada saya yang menyatakan ia tak pernah mengatakan seperti apa yang kalian (para reporter) bilang kepada saya, ” tambah Maradona. Sebelumnya, Platini dikabarkan telah mengkritik kemampuan Maradona sebagai pelatih dengan menyebut ia hanya jadi pelatih yang bagus saat masih jadi pemain. Kritikan serupa juga dilontarkan Pele. Maradona kemudian balik menyerang kedua sosok legendaris itu dengan mengatakan Pele seharusnya kembali ke museum dan menyebut Platini merasa lebih besar daripada apa pun di dunia ini karena ia orang Prancis. Di pengujung wawancara, Maradona menjawab pertanyaan kebiasaanya memeluk dan mencium para pemainnya seusai pertandingan. “Saya suka perempuan… Jadi publik jangan menyangka saya telah berpindah jalur, ” tandas Maradona.

Kamis, 24 Juni 2010

Afsel yang Pertama Setelah As

detikcom - Jakarta, Tampil sebagai tuan rumah Piala Dunia 2010, Afrika Selatan kalah dalam laga kedua fase grup. Afsel pun mengikuti jejak Amerika Serikat tahun 1994. Semenjak AS menyerah 0-1 dari Rumania di fase grup Piala Dunia 1994, belum ada lagi tuan rumah yang kalah dalam pertandingannya di fase grup. Prancis (1998), Jepang dan Korea Selatan (2002) dan Jerman (2006) kesemuanya tak ada yang melewati fase grup dengan kekalahan. Prancis dan Jerman mulus dengan tiga kemenangan sementara Jepang dan Korsel dua kali menang dan sekali imbang. Dengan demikian, kekalahan 0-3 yang diderita Afsel saat menghadapi Uruguay, Kamis (17/6/2010) dinihari WIB, menjadi kekalahan pertama negara tuan rumah semenjak kekalahan AS. Nasib Afsel kini cukup merisaukan karena cuma punya satu poin hasil dari dua laganya. Pada tahun 1994 AS lebih beruntung karena saat itu peserta Piala Dunia cuma 24 negara sehingga empat tim posisi tiga terbaik, termasuk AS, bisa maju ke babak 16 besar. Peluang Afsel sendiri memang masih belum habis dan setidaknya ada satu catatan yang mungkin bisa bikin mereka terlecut semangatnya: belum pernah ada tuan rumah Piala Dunia yang gagal lolos ke babak dua.

Pemain Termuda, Tertua Dan Terpendek Di Piala Dunia 2010

Serba-serbi piala dunia 2010 kali ini akan membahas mengenai pemain paling muda, pemain paling tua, pemain terpendek serta semua yang unik mengenai piala dunia 2010 ini, » Kita mulai saja dari pemain paling muda di piala dunia 2010 ini adalah adalah Christian Eriksen dari Denmark. Usianya baru mencapi 18 tahun 3 bulan. Ia lebih muda sebulan dibanding pemain Kamerun, Vincent Aboubakar. » Pemain Tertua Kiper Inggris David James tercatat sebagai pemain tertua di perhelatan Piala Dunia 2010. Usia kiper Portsmouth itu mencapai 39 tahun 10 bulan.Seperti dilansir Sport Intellegence, Senin 7 Juni 2010, usia James lebih tua tiga bulan dibanding kiper ketiga Belanda Sander Boschker. » Pemain terpendek Pemain Tottenham Hotspur, Aaron Lenon yang mempunyai tinggi badan 165 cm masuk dalam daftar pemain terpendek yang dikeluarkan oleh The Global Herald. Dengan demikian Inggris mencatatkan diri sebagapi tim pemilik pemain terpendek di ajang Piala Dunia 2010 ini Nah itulah beberapa serba-serbi mengenai pila dunia 2010 kali ini

Senin, 21 Juni 2010

Kamerun Tenggelam dalam Dinginnya Malam

PRETORIA, KOMPAS.com - Cuaca tak bersahabat menemani duka para pendukung Kamerun setelah tim kesayangan mereka kalah melawan Denmark. Suhu dingin di Pretoria semakin menusuk hati mereka yang terluka karena Kamerun gagal menembus fase grup Piala Dunia 2010. Sabtu (19/6/2010) malam di Pretoria akan selalu mereka ingat sebagai akhir pekan penuh duka di Afrika. Dalam jebakan suhu minus dua derajat Celcius, pendukung "Singa Afrika" harus pulang dari Stadion Loftus Verfeld dengan wajah muram, nyaris tanpa ekspresi. Kepulangan mereka menjadi sangat kontras dibanding keberangkatan mereka ke arena tersebut. Tidak ada lagi pawai penuh kegembiraan sebagaimana mereka datang ke tempat itu. Tak ada lagi kebahagiaan seperti ketika Samuel Eto'o menjebol gawang Thomas Sorensen. Di sepanjang Jalan Westwoods, Eastwoods, dan Wessel Street, wartawan Tribunnews.com Mohamad Nurfahmi Budi melihat iring-iringan suporter Kamerun seperti membeku bersama dinginnya udara. Mulut mereka enggan membunyikan lagi vuvuzela. Tangan mereka tak berhasrat menabuh genderang. Suasana berganti dengan perasaan sedih karena Kamerun menjadi tim pertama yang harus mengucapkan selamat tinggal kepada Afrika Selatan selaku tuan rumah piala dunia kali ini. Kamerun masih harus menjalani satu pertandingan lagi melawan pimpinan Grup D, Belanda. Namun, laga itu hanya sebatas formalitas karena tak akan memengaruhi posisi mereka dalam klasemen. Kalaupun Eto'o dkk berjuang mati-matian, itu semata-mata untuk menjaga kehormatan supaya mereka tak pulang tanpa poin, syukur bisa menang. Hal sebaliknya diperlihatkan barisan suporter Denmark. Jumlah mereka kira- kira hanya 2.000 orang, tapi reaksi kemenangan mereka pertontonkan dengan sangat nyata. Ada yang menari, berpelukan antarsesama suporter, sampai meniup vuvuzela memecah keheningan malam. Mereka melakukannya setelah rombongan suporter Kamerun lewat dengan tenang di jalanan pusat kota Pretoria. Sebuah sikap dewasa yang menghargai kepedihan lawan. (Tribunnews.com/ bud)

Capello Tolak Sebutan "Kick And Rush"

CAPE TOWN, KOMPAS.com — Pelatih Inggris Fabio Capello heran terhadap pernyataan Franz Beckenbauer. Menurut Capello, Inggris tak memainkan kick and rush seperti ditudingkan Beckenbauer. Setelah duel Inggris versus Amerika Serikat yang berakhir imbang 1-1, Beckenbauer memberikan penilaiannya terhadap penampilan "The Three Lions". Ia menyebut negara asal sepak bola itu kurang kreatif sehingga harus banyak membuang bola ke depan, tipikal kick and rush. Pemain legendaris Jerman itu beranggapan, cara seperti itu merupakan dampak dari banyaknya pemain asing di Liga Inggris. "Saya terkejut dengan komentarnya," kata Capello kepada BBC Radio Five Live. "Ketika Anda bicara soal tim lain, Anda harus menunjukkan rasa hormat kepada mereka. Bicara soal sebuah tim memang mudah jika Anda duduk di bangku penonton. Namun, Anda harus menyaksikan laga secara langsung." "Kami tidak memainkan bola-bola panjang. Kami memainkan banyak umpan dan punya peluang mencetak gol. Karena alasan ini, saya tak paham apa yang Beckenbauer katakan," tambahnya. Capello menerangkan, salah satu kesulitan para pemain dalam Piala Dunia kali ini adalah bola yang mereka mainkan. Sama seperti Pelatih Argentina Diego Maradona, Capello juga menyebut bola Jabulani sangat jelek. "Ini bola terburuk yang pernah saya lihat dalam hidup saya. Ini bencana bagi para pemain. Ini buruk bagi kiper karena tak mungkin memantau pergerakannya. Ketika Anda berusaha memakainya untuk umpan jarak jauh, sangat sulit memahami ke mana bola bergerak. Namun, masalah yang benar-benar besar adalah kadang bola ini tak mungkin dikendalikan," paparnya. Akibat buruknya karakter bola baru tersebut, kiper Inggris, Robert Green, gagal mengantisipasi tendangan Clint Dempsey. Bola lepas dari tangkapannya dan masuk ke gawang sendiri.

Swiss Akhiri Penantian 85 Tahun

DURBAN, Kompas.com - Swiss tampil sangat mengagumkan ketika melakoni laga perdana penyisihan Grup H Piala Dunia 2010 di Stadion Moses Mabhiba, Durban, Rabu (16/6/10). Melawan juara Eropa yang juga favorit juara, Spanyol, tim besutan Ottmar Hitzfeld ini menang 1-0, lewat gol Gelson Fernandes pada menit ke-51. Hasil spektakuler ini pun mengakhiri penantian Swiss selama 85 tahun, yang tidak pernah menang lawan Spanyol. Pasalnya, dalam 18 pertemuan sebelumnya sejak mereka untuk pertama kali bertarung pada pertandingan ujicoba di Berne, 1 Juni 1925 (Spanyol menang 3-0), hasil terbaik Swiss adalah imbang. Namun, kerinduan untuk menjinakkan "El Matador" itu terjadi pada pertemuan ke-19 di Afrika Selatan. Tak ayal, keberhasilan tersebut disambut dengan penuh sukacita. Apalagi, kali ini Spanyol datang dengan status penguasai Eropa, seperti yang dilukiskan pelatih Ottmar Hitzfeld. "Ini kemenangan bersejarah!" ungkap pelatih Swiss asal Jerman tersebut, usai pertandingan. "Kami tidak pernah mengalahkan Spanyol sejak dulu. Kami telah melakukan sebuah langkah maju dan membuka peluang ke babak kedua. Tetapi, kami harus tetap penuh perhatian dan fokus," tambah pelatih berusia 61 tahun tersebut, yang tercatat sebagai satu dari hanya tiga pelatih, yang meraih gelar juara Liga Champions bersama dua klub berbeda. Memang, dalam pertandingan tersebut Swiss menunjukkan daya juang yang luar biasa. Meskipun terus mendapat tekanan, mereka berhasil menutup semua celah yang memungkinkan para pemain Spanyol melakukan penetrasi. Selain itu, penampilan gemilang penjaga gawang Diego Benaglio juga menjadi sebuah kunci keberhasilan Swiss, karena dia beberapa kali menggagalkan peluang "La Furia Roja". Dan, pada menit ke-51 Gelson Fernandes membuat kejutan besar, ketika dia mengoyak jala Iker Casillas. Memanfaatkan sebuah kemelut di depan gawang, Fernandes mencocor bola ke dalam gawang yang tidak terkawal lagi. Inilah satu-satunya gol dalam laga tersebut, sekaligus pencatat sejarah baru persepakbolaan Swiss dalam usahanya meruntuhkan dominasi Spanyol terhadap mereka. - Rekor pertemuan Piala Dunia 2010 Durban, Afsel 16/06/2010 Spanyol 0:1 (0:0) Swiss Penyisihan grup 1994 Washington Dc 02/07/1994 Spanyol 3:0 (1:0) Swuss 16 Besar 1966 Sheffield 15/07/1966 Spanyol 2:1 (0:1) SwissI Penyisihan grup Kualifikasi Piala Dunia 1958 Lausanne 24/11/1957 Swiss 1:4 (0:2) Spanyol Putaran pertama 1958 Madrid 10/03/1957 Spanyol 2:2 (2:1) Swiss Putaran pertama Persahabatan 1989 Santa Cruz De Tenerife 13/12/1989 Spanyol 2:1 (1:0) Swiss 1987 Basel 05/06/1988 Swiss 1:1 (0:1) Spanyol 1984 Geneva 26/05/1984 Swiss 0:4 (0:3) Spanyol 1982 Valencia 28/04/1982 Spanyol 2:0 Swiss 1977 Berne 21/09/1977 Swiss 1:2 Spanyol 1970 Lausanne 22/04/1970 Swiss 0:1 Spanyol 1969 Valencia 26/03/1969 Spanyol 1:0 Swiss 1955 Geneva 19/06/1955 Swiss 0:3 Spanyol 1951 Madrid 18/02/1951 Spanyol 6:3 Swiss 1948 Zürich 20/06/1948 Swiss 3:3 Spanyol 1941 Valencia 28/12/1941 Spanyol 3:2 Swiss 1936 Berne 03/05/1936 Swiss 0:2 Spanyol 1927 Santander 17/04/1927 Spanyol 1:0 Swiss 1925 Berne 01/06/1925 Swiss 0:3 Spanyol

Swiss Samai Italia

detikcom - Durban, Swiss memang bukan negara tradisional di Piala Dunia. Namun kemenangan 1-0 atas Spanyol membuat Schweizer Nati menyamai rekor juara dunia empat kali Italia. Soal? Melawan Spanyol pada pertandingan perdananya di Grup H, Rabu (16/6/2010) malam WIB, Swiss jelas menjadi underdog. Namun status tersebut tak bikin tim asuhan Otmar Hitzfeld itu ngeper duluan dan malah mampu merepotkan Spanyol sepanjang laga. Total 24 tendangan dilepaskan pasukan Matador ke gawang Swiss namun kiper mereka Diego Benaglio mampu menjaga gawangnya dari kebobolan. Sebaliknya Spanyol malah harus dibobol oleh Gelson Fernandes di menit ke-51 dan itu jadi satu-satunya gol dalam laga itu. Suasana gembira pun menyelimuti Swiss karena mereka berhasil menghapus rekor buruk dari Spanyol di pentas internasional. Dalam dua pertemuan terakhir di PD 1966 dan 1994, Swiss selalu kalah dari Spanyol. Tak hanya itu perawannya gawang Benaglio pada laga tadi membuat peringkat ke-24 FIFA itu menorehkan rekor tak kebobolan dalam lima laga beruntun di Piala Dunia sejak Jerman 2006. Sebelumnya rekor tersebut dipegang Italia sendirian yang melakukannya di PD 1990. Saat tersingkir empat tahun lalu dari Ukraina, Swiss kalah dari adu penalti setelah bermain imbang 0-0. Terakhir kali Swiss kebobolan adalah saat kalah 0-3 dari Spanyol di babak 16 besar Amerika Serikat 16 tahun lalu.

Reuni Keluarga di Afsel

detikcom - Jakarta, Ada saja family affair di turnamen besar termasuk Piala Dunia 2010. Ada yang adik- kakak, menantu- mertua, sampai saudara tiri yang membela negara yang berbeda. Siapa saja mereka? Slovakia memiliki pemain gelandang bernama Vladimir Weiss (20). Ia adalah anak sang pelatih tim, yang juga bernama sama, Vladimir Weiss (45). Mereka memang keturunan pesepakbola karena kakek Weiss muda pernah membela timnas Cekoslowakia dan ikut Olimpiade 1964. Namanya juga Vladimir Weiss! Hubungan ayah dan anak juga menghiasi tim Amerika Serikat. Pelatih Bob Bradley adalah ayah dari Michael Bradley, pemain tengah andalan The Yanks. Dari kelompok adik- kakak, Pantai Gading memiliki sepasang yang top: Kolo Toure (Manchester City) dan Yaya Toure (Barcelona). Paraguay punya Barreto Bersaudara, Edgar dan Diego. Yang paling banyak pemain sedara adalah Honduras. Palacios Bersaudara, Jerry, Wilson dan Johny, masuk tim, dan itu menjadikan Honduras negara pertama yang tiga pemain bersaudara kandung dalam satu tim. Dari ketiga nama itu anak kedua yaitu Wilson Palacios (25 tahun) adalah yang paling tenar karena ia bermain di klub Liga Inggris Tottenham Hotspur. Si sulung Jerry Palacios (28 tahun) bermain di klub China Hangzhou Nabel Greentown. Adapun si bungsu Johny Palacios (23 tahun) baru punya lima caps dan bermain di klub lokal Olimpia. Hubungan keluarga "setengah-setengah" ada untuk dua pemain bernama Boateng. Jerome Boateng (Jerman) dan Kevin Prince Boateng (Ghana) adalah saudara satu ayah dengan ibu yang berbeda, dengan ayah yang asli Ghana. Jerome dan Kevin Prince bisa berduel di lapangan karena Jerman dan Ghana berada di Grup D, dan dijadwalkan bertarung pada 24 Juni. "Saya tahu sejak awal ingin bermain di Jerman. Lagipula, saya tumbuh dan besar di sini, di tengah mental negara Jerman," ucap Jerome. Di tim Slovenia ada juga saudara sepupu Samir dan Jasmin Handanovic. Sementara di Kamerun ada hubungan paman- keponakan antara Rigobert Song dan Alex Song. Hubungan keluar yang lain adalah mertua- menantu. Pelatih Argentina Diego Maradona adalah ayah dari istri penyerang Sergio Aguero. Begitu pula di Belanda, pelatih Bert van Marwijk adalah mertua gelandang senior Mark van Bommel.

Minggu, 20 Juni 2010

Kado Buruk Dihari Ultah Capello

CAPE TOWN, KOMPAS.com - Pelatih Inggris Fabio Capello mestinya bisa merayakan ulang tahunnya yang ke-64. Apa mau dikata, ultah itu justru dilengkapi kado buruk permainan timnya di Piala Dunia. Selama Inggris menghadapi Aljazair pada laga penyisihan Grup C Piala Dunia 2010, Jumat (18/6/2010), wajah Capello selalu tampak tegang. Kulit wajahnya berlipat- lipat, memperlihatkan kekecewaannya terhadap permainan timnya. Andai menang lawan Aljazair, Inggris akan berpeluang besar lolos ke fase gugur. Namun, permainan buruk Steven Gerrard dkk membuat mereka harus puas dengan skor akhir 0-0. Alih-laih berpeluang lolos, "The Three Lions" kini harus berjuang keras agar menang di laga terakhir versus Slovenia. Slovenia kini memimpin klasemen Grup C dengan nilai 4. Amerika Serikat berada di urutan kedua dengan nilai 2, sama dengan Inggris. Inggris kalah selisih gol dari AS dan karena itu Inggris perlu menang minimal selisih dua gol di laga terakhir penyisihan grup.

Korea Utara, Si Bisu Yang Menampar Indonesia

JOHANNESBURG, KOMPAS.com — Undian Piala Dunia 2010 Afrika Selatan menentukan Korea Utara harus berada segrup dengan Portugal, Pantai Gading, dan Brasil. Grup ini kemudian disebut banyak orang sebagai grup neraka. Grup neraka biasanya diisi oleh tim-tim yang punya reputasi juara atau pemain- pemain bertalenta dan ternama. Mengacu ini, lantas di mana keistimewaan Korea Utara? Jawabannya tak ada. Satu-satunya yang membuat Korut istimewa adalah karena mereka misterius. Jangankan mengorek sejarah atau taktik, untuk membuat para pemain, pelatih, atau staf kontingen mereka bicara pada konferensi pers pun susahnya setengah mati. Ketertutupan itulah yang membuat mereka "dicurigai" punya senjata rahasia yang bakal mengejutkan Ricardo Kaka, Cristiano Ronaldo, atau Didier Drogba. Ketika jadwal penyisihan grup menentukan Korut harus bertemu Brasil pada kesempatan pertama, banyak orang yang memprediksi mereka cuma akan menjadi lumbung gol tim "Samba". Prediksi itu bukan tanpa dasar. Melihat statistik FIFA, Brasil menduduki puncak daftar peringkat tim dunia. Korut sendiri berada di posisi ke-85. Setidaknya, selisih keduanya lebih lebar ketimbang jarak antara Portugal (ke-5) dan Pantai Gading (ke-22). Namun, statistik tinggal statistik. Fakta sesungguhnya, yaitu kedua tim bertanding, Selasa (15/6/2010), mengatakan bahwa Korea cuma kalah dengan selisih satu gol dari Brasil. Namun, skor saja tak cukup menggambarkan betapa kekuatan Korea Utara tak bisa dipandang sebelah mata. Pada pertandingan itu, Brasil harus bersusah payah menyarangkan gol ke gawang RI Myong Guk. Setelah dipaksa menutup babak pertama dengan skor imbang 0-0, Brasil akhirnya memecah kebuntuan berkat gol Maicon pada menit ke-55. Moral Brasil semakin melambung ketika Elano menggandakan keunggulan pada menit ke-72. Namun, keadaan ini tak membuat Korut menyerah. Sambil tetap menjaga disiplin permainan, mereka mampu memperpendek jarak menjadi 1-2 berkat gol JI Yun Nam pada menit ke-89. Setelah itu, mereka masih terus bermain ngotot, sampai dipaksa mengerem larinya sendiri ketika wasit Viktor Kassai membunyikan peluit tanda berakhirnya laga. Korea memang kalah dan belum tentu mendulang kemenangan pada dua laga sisa, di mana Portugal dan Pantai Gading sudah menanti. Namun, mencetak gol balasan ke gawang raja Piala Dunia, dalam keadaan tertinggal dua gol dan dengan sisa waktu satu menit, adalah prestasi. Bagi Indonesia, pencapaian Korea Utara adalah tamparan bolak-balik seperti Asterix menampar orang- orang Romawi dalam cerita karangan Rene Goscinny dan Albert Uderzo. Korea, yang kesulitan mengakses siaran Piala Dunia dan setengah mati meminta restu negara untuk mencari (dan mendapatkan) sponsor, mampu mencapai Afrika Selatan dan mencetak gol ke gawang Brasil, setelah tertinggal 0-2, dan menjelang masa injury time pula. Indonesia, yang punya semuanya (kecuali mungkin semangat dan kejujuran), mulai dari sumber daya manusia, sponsorship, suporter, hingga akses informasi yang jauh lebih luas ketimbang Korut, malah berharap tampil di Piala Dunia dengan memenangi bidding tuan rumah. Ironisnya, untuk melewati jalan pintas seperti itu pun Indonesia juga gagal. Korea Utara mungkin tak akan meraih poin lagi di dua pertandingan sisa dan gagal melaju ke putaran kedua. Namun, mereka tetap berhak pulang dengan kepala tegak karena dengan segala keterbatasannya, mereka mampu menjebol gawang Julio Cesar, yang Lionel Messi pun gagal melakukannya. Dan, sementara nanti JI Yun Nam bercerita kepada yunior- yuniornya, anak- cucunya, atau tetangga- tetangganya, bagaimana ia menjebol gawang jawara Piala Dunia dengan pertandingan cuma menyisakan satu menit, Indonesia mungkin masih cuma sibuk membuat proposal untuk mendatangkan Manchester United atau melobi FIFA untuk menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia. Tentu, kita berharap Indonesia akan lebih baik dari itu.

BBC Matikan Suara Vuvuzela

LONDON – Protes tentang kebisingan Vuvuzela terus berkembang. Hingga hampir sepekan bergulirnya Piala Dunia 2010, suara alat tiup khas Afrika Selatan itu, selalu terdengar di setiap pertandingan. Siaran BBC kini tengah mempertimbangkan untuk mematikan suara vuvuzela dalam tayangan Piala Dunia 2010. BBC dikabarkan menerima banyak protes dari pelanggannya. Debat tentang penggunaan terompet plastik tersebut sudah bergaung sejak awal turnamen akbar empat tahunan ini. Kebanyakan dari mereka keberatan dengan suara bising tersebut karena mengganggu komentar dan kenikmatan pertandingan. BBC sedang mempertimbangkan alternatif agar pelanggan mereka bisa tetap menikmati pertandingan. Caranya, dengan menghilangkan suara atmosfer di styadion dan menyisakan suara komentator saja. Juru bicara wanita BBC, Rabu (16/6/2010), mengatakan: “ Penggunaan tombol merah untuk emmatikan suara di stadion adalah opsi yang sedang kami pertimbangkan. Keputusan ini akan segera diambil.” Namun, bisa dibayangkan jika menonton sepakbola tanpa suara dari stadion. Tentu akan ada sedikit perbedaan atmosfer langsung bila tanpa suara apapun. Opsi lain adalah mengajukan keberatan kepada FIFA agar melarang vuvuzela di bawa ke stadion.

Sabtu, 19 Juni 2010

Sepakbola Indah Sudah Lama Musnah

Oleh Budiarto Shambazy Belum lama ini Carlos Alberto Torres (65), kapten Brasil yang merebut gelar "tri" (juara dunia untuk ketiga kalinya) di Meksiko 1970, bertemu Franz Beckenbauer (64). "Saya pernah melatih. Beckenbauer sahabat saya. Suatu kali di rumahnya di Austria dia bilang, 'Carlos, kamu tahu apa masalah pelatih? Kita memaksa pemain meniru kita'. Sejak itu saya paham," kata pencetak gol ketiga di final 1970 itu. Gol Carlos Alberto karya seni awal yang melahirkan "sepak bola indah" (jogo bonito atau joga bonito). Saat pertandingan nyaris usai, Italia yang menekan kehilangan bola. Lewat serangan balik bak musik orkestra, si kulit bundar mengalir indah mampir ke tujuh pemain. "Selecao" (tim nasional) menyajikan encore yang indah lewat Carlos Alberto yang menghunjamkan tendangan mendatar menipu kiper Enrico Albertosi yang terbengong. Saat itulah lahir salah satu fitur terpenting sepak bola indah, yakni peran bek yang aktif mendukung serangan jauh ke depan lewat kedua sayap meniru gaya Carlos Alberto. Pengaruh global bek sayap ini amat besar dan ditiru di mana- mana, mulai dari Paul Breitner dan Bertie Vogts di tim nasional Jerman Barat sampai Simson Rumahpasal atau Sutan Harhara di tim nasional PSSI. Sayangnya, musik jogo bonito hanya terdengar sayup- sayup tahun 1970 dan 1982. Jika tahun 1970 dirigennya Carlos Alberto, tahun 1982 dirigennya Socrates yang juga kapten Selecao. Mereka kecewa kepada Dunga, pelatih saat ini. Carlos Alberto malas ke Afrika Selatan, lebih suka menonton di televisi. Jika Carlos Alberto menuding Dunga melecehkan jogo bonito, Socrates menuduh Dunga "menghina warisan budaya nasional". Apa pun alasannya, mereka mestinya paham bahwa menciptakan jogo bonito bukan membalik telapak tangan. Tim butuh lebih dari separuh pemain berbakat. Tahun 1970 ada Carlos Alberto, Pele, Gerson, Tostao, Jairzinho, dan Rivelino. Tahun 1982 ada Socrates, Zico, Eder, Toninho Cerezo, Falcao, dan dua bek sayap, Junior serta Leandro. Mereka berbakat alam yang ditempa pelatih yang mengandalkan metode tradisional. Untuk agility, misalnya, remaja dibiasakan berlari mengejar ayam atau dipaksa tidur bersama bola. Di kota-kota pantai mereka terlatih main voli dengan kaki atau sepak bola pantai di atas pasir —alas yang jauh lebih berat dibandingkan dengan rumput. ”Kebebasan koreografis” Syarat mutlak lainnya, jogo bonito butuh anak miskin yang punya mimpi dan harapan kolektif mengikuti jejak Pele, Zico, Romario, Bebeto, Ronaldo, atau Kaka. Kombinasi skill individu dengan kolektivitas ini yang jadi landasan. Selain itu, kata Carlos Alberto, ada faktor mistis yang sukar terjawab. Para ilmuwan menyebutnya dengan ”kebebasan koreografis” yang menoleransi pemain berimprovisasi, seperti mondar- mandir di lapangan sesuka hati tanpa perlu mendengar instruksi pelatih. Kebebasan ini yang menciptakan fitur- fitur sepak bola indah. Selain winger back, fitur penting lainnya adalah tendangan pisang, gerakan tanpa bola (lay-off), dan memaksimalkan ruang tak terlihat (blind sides). Itu yang membuat tim 1982 asuhan Tele Santana, pelatih yang terlalu santai, menyajikan jogo bonito terbaik. Ironisnya, justru sikap "semau gue" itu yang membuat mereka dijungkalkan Italia. Santana kurang disiplin seperti pelatih 1970, Mario Zagallo, yang secara pas meramu kebebasan koreografis dengan disiplin militer. Itu sebabnya, tim 1970 jauh lebih metodologis dan efisien meski tetap indah. Sebaliknya, tim 1982 jauh lebih indah walau kurang efisien. Puncak keindahan jogo bonito sampai kini terjadi ketika Socrates mencetak gol ke gawang Italia yang menang 2-3. Zico mengontrol bola membelakangi lawan menerima throw-in dari Socrates di tengah. Ia balik badan menggiring bola melewati beberapa lawan ke kotak penalti, serta-merta menyeret perhatian lini belakang Italia yang mengeroyok dia di depan kotak penalti. Tanpa dinyana, Zico tanpa menoleh mengoper bola jauh ke sayap kanan yang melompong dan di situ sudah menunggu Socrates yang lari kencang. Dari sudut sempit dan tak terlihat, Socrates menaklukkan kiper Dino Zoff dengan tendangan perlahan. Jogo bonito punah tahun 1982. Sempat ada masa transisional ketika tim 1978 diasuh Claudio Cautinho, yang mewarisi sebagian pemain Zagallo tahun 1970-1974 seperti Rivelino dan Jairzinho. Tahun 1978 itu Brasil dianggap "juara tanpa mahkota" karena tuan rumah Argentina main mata dengan Peru di semifinal menyingkirkan Brasil yang kalah selisih gol. Jogo bonito memang tak pernah dilestarikan dan buktinya Brasil bisa jadi juara tahun 1994 dan 2006. Penyerang berbakat banyak, seperti Bebeto, Romario, atau Ronaldo. Play maker? Jumlah dan kualitasnya terbatas, seperti Dunga, Ronaldinho, atau Kaka. Tim 2010 ini pasti tak indah, miskin play maker, walau jadi salah satu favorit kuat menjadi juara keenam kalinya. Dan, Brasil masih beruntung karena tim-tim favorit kebetulan juga mengalami defisit play maker. Meski tetap manis dikenang, jogo bonito bak harta karun yang dibuang. Denmark 1980-an bangga menyebut diri sebagai "Brasil Eropa", negara-negara Teluk Persia berlomba minta dijuluki "Brasil Asia", PSSI pernah berguru ke Brasil tahun 1970-an dan mendatangkan pelatih Joao Barbatana. Mungkin orang yang paling tak bangga cuma Dunga, yang menyia-nyiakan dua pemain amat berbakat: Neymar dan Ganso. Tiap ada Piala Dunia, sebagian orang Brasil pasti menggerutu, "para onde vais"? Brasil, mau ke mana? (Kompas Cetak)

Tim-tim "Underdog" Bersinar di Afsel

JOHANNESBURG, Kompas.com - Kejutan demi kejutan terus terjadi di Piala Dunia 2010 ini. Para tim underdog, di luar dugaan memancarkan sinarnya yang menyilaukan tim-tim unggulan, karena bisa mempermalukan negara-negara kuat yang memiliki tradisi bagus di arena Piala Dunia. Terakhir, Serbia, Slovenia, dan Aljazair, melakukannya pada Jumat (18/6/10). Serbia, yang pada laga perdana kalah 0-1 dari Ghana, bermain kesetanan ketika melawan Jerman, dalam lanjutan penyisihan Grup D. Di luar dugaan, "The White Eagles" menghancurkan "Der Panzer" dengan skor 1-0 lewat gol Milan Jovanovic. Mereka memanfaatkan keunggulan jumlah pemain karena striker Miroslav Klose diusir, menyusul kartu kuning kedua yang diterimanya dalam laga tersebut. Slovenia, yang tergabung di Grup C, juga membelalakan mata para pecinta sepak bola dunia. Negara terkecil di event ini, karena hanya memiliki jumlah penduduk 2 juta jiwa, tampil sangat impresif dan nyaris mempermalukan Amerika Serikat. Bagaimana tidak, mereka sempat unggul 2-0 di paruh pertama, sebelum "Paman Sam" membalasnya di babak kedua, untuk memaksa hasil akhir menjadi imbang 2-2. Masih dari Grup C, Aljazair pun tampil sangat mengesankan ketika melawan tim favorit juara, Inggris. "The Desert Fox" yang sama sekali tidak diperhitungkan, justru menghadirkan kesulitan yang besar bagi "The Three Lions", sehingga skor akhir laga 2x45 menit itu berakhir imbang tanpa gol. Ini membuat persaingan di Grup C menjadi sangat sengit, karena baik Slovenia, yang kini memimpin klasemen sementara, AS (peringkat dua), Inggris (peringkat 3) dan Aljazair, sang juru kunci, masih memiliki peluang yang sama untuk melangkah ke babak 16 besar. Laga pamungkas, menjadi penentu, ketika Slovenia bertemu Inggris dan AS ditantang Aljazair. Peluang terbesar ada di tangan Slovenia dan AS, karena dengan hasil imbang saja mereka meraih tiket ke fase knock- out. Sebelum kejutan pada laga hari Jumat ini, sudah ada hasil yang membuat semua orang heran melihat performa para tim underdog. Lihat saja bagaimana Korea Selatan membantai Yunani, juara Eropa 2004, dengan skor 2-0. Kemudian, Swiss mempermalukan juara Eropa 2008, Spanyol, dengan kemenangan 1-0. Belum lagi Korea Utara, yang sempat membuat Brasil frustrasi, meskipun mereka akhirnya kalah 1-2. Di Grup A, Perancis sudah hampir pasti tersingkir karena menelan kekalahan 0-2 dari Meksiko pada laga kedua, Kamis (17/6/10). "Les Bleus", juara Piala Dunia 1998 dan juara Eropa 2000, juga hanya bermain imbang tanpa gol pada laga perdana melawan Uruguay. Meskipun tidak terlalu mengejutkan karena performa "Ayam Jantan" memang kurang meyakinkan, tetapi kegagalan ini menjadi salah satu bukti tim raksasa sudah menjadi korban tim underdog. Memang, sepanjang sejarah Piala Dunia, belum ada tim Eropa yang menjadi juara ketika turnamen empat tahunan ini diselenggarakan di luar benuanya. Sebaliknya, tim dari benua Amerika sudah mematahkan mitos itu ketika Brasil menjadi juara di Swedia pada tahun 1958--sebelum dan sesudah itu, tim dari benua Amerika pun tidak pernah menjadi juara di Eropa. Lalu, Brasil juga kembali menegaskan predikatnya sebagai raja sepak bola dengan menjuarai Piala Dunia Korea Selatan-Jepang 2002. Nah, di Afrika Selatan ini pun, tampaknya tim-tim Eropa mulai menemui kesulitan. Kekalahan Jerman, yang sudah tiga kali jadi juara dunia, dan Spanyol, serta hasil imbang Italia (juara empat kali) ketika melawan Paraguay pada laga perdana penyisihan Grup F, plus kemungkinan besar tersingkirnya Perancis, semakin membuktikan bahwa tim-tim benua biru ini tidak memiliki tradisi juara di luar (benua Eropa). Setali tiga uang, tim dari Afrika pun tidak terlalu mencolok. Padahal, mereka memiliki tujuh wakil dalam gegap gempita pesta di benuanya ini. Hanya Ghana yang menyelamatkan muka Afrika, berkat kemenangan 1-0 atas Serbia, pada laga perdana penyisihan Grup D. Di sisi lain, dua raksasa Amerika Latin, Argentina dan Brasil, masih sempurna. Argentina, juara dunia dua kali, bahkan sudah meraih tiket perdelapan final usai berpesta gol 4-1 ke gawang Korea Selatan, pada partai kedua penyisihan Grup B, Kamis (17/6/10). Tiga poin dari Korsel itu melengkapi kemenangan 1-0 atas Nigeria, pada partai perdana penyisihan grup. Sedangkan Brasil, juara dunia lima kali, baru akan memainkan partai kedua penyisihan Grup G melawan Pantai Gading, 21 Juni mendatang. Melihat performa "Albiceleste" dan "Selecao", tampaknya mereka tetap menjadi ancaman di Piala Dunia ke-19 ini dan masih menjadi kandidat terkuat untuk menjadi juara. Meskipun demikian, penampilan tim-tim underdog juga harus diperhitungkan, karena jika terus berlanjut maka bukan mustahil kejutan terjadi lagi. Lantas, mungkin saja muncul juara baru di tanah Afrika? Kita tunggu saja.